MAKALAH
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
MOTIVASI BELAJAR

Dosen Pembimbing :
Nur
Cholimah S.Pd., M.Pd.
Pemakalah :
1.
Entina Nesti
Kusairoh (19302241008)
2.
Zulfa Lutfi
Anisa (19302241013)
3.
Narita Relly
Millen (19302241024)
4.
Naufal Rafiif
Nafiyanto (19302241050)
5.
Afini Vinnahari
Nuryaman (19302241024)
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2020
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis
mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikanmakalah sebagai tugas psikologi pendidikan dengan judul “Motivasi
Belajar”
Penulis
tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah
ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis
mengucapkan terimakasih kepada Ibu Nur Cholimah S.Pd., M.Pd. yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan makalah kami. Tanpa bantuan beliau makalah
ini tidak mungkin dapat dibaca oleh pembaca sekalian. Demikian, semoga makalah
ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Yogyakarta, 28 Februari 2020
Penyusun
Pendidikan dan pengajaran adalah
suatu proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha
untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan peserta didik setelah
melaksanakan pengalaman belajar. Tercapai tidaknya tujuan pengajaran salah
satunya adalah terlihat dari prestasi belajar yang diraih peserta didik. Dengan
prestasi yang tinggi, para peserta didik mempunyai indikasi berpengetahuan yang
baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi peserta didik adalah
motivasi. Dengan adanya motivasi, peserta didik akan belajar lebih keras, ulet,
tekun dan memiliki konsentrasi penuh dalam proses pembelajaran. Dorongan
motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu dibangkitkan dalam
upaya pembelajaran di sekolah.
Penelitian Wasty Soemanto (2003)
menyebutkan, pengenalan seseorang terhadap prestasi belajarnya adalah penting
karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai maka peserta didik akan
lebih berusaha meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan demikian peningkatan
prestasi belajar dapat lebih optimal karena peserta didik tersebut merasa
termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar yang telah diraih sebelumnya.
Biggs dan Tefler mengungkapkan motivasi belajar peserta didik dapat menjadi
lemah. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan
kegiatan, sehingga mutu prestasi belajar akan rendah. Oleh karena itu, mutu
prestasi belajar pada peserta didik perlu diperkuat terus-menerus. Dengan
tujuan agar peserta didik memiliki motivasi belajar yang kuat, sehingga
prestasi belajar yang diraihnya dapat optimal.
Motivasi belajar yang dimiliki
peserta didik dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.
Siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar memungkinkan akan memperoleh hasil
belajar yang tinggi pula, artinya semakin tinggi motivasinya, semakin
intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka semakin tinggi prestasi belajar
yang diperolehnya. Oleh karena itu, dalam proses pengajaran sangat diperlukan
adanya motivasi. Hal inilah yang melatarbelakangi disusunnya makalah mengenai
“Motivasi Belajar” ini.
1.
Apa yang dimaksud
dengan Motivasi Belajar?
2.
Apa saja jenis-jenis Motivasi Belajar?
3.
Apa saja
faktor-faktor yang memepengaruhi Motivasi Belajar?
4.
Apa saja
teori-teori Motivasi Belajar?
5.
Bagaimana Motivasi
Belajar menurut konsep islam?
6.
Bagaimana upaya
meningkatkan motivasi belajar peserta
didik?
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud
dengan motivasi belajar.
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis motivasi
belajar.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi belajar.
4. Untuk mengetahui apa saja teori-teori motivasi
belajar.
5. Untuk mengetahui motivasi belajar menurut konsep
islam.
6. Untuk mengetahui upaya meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.
Motivasi diartikan sebagai suatu hal yang dapat menimbulkan perilaku
tertentu dan memberi
arah serta ketahanan pada tingkah
laku tersebut. Motivasi adalah keadaan
internal yang mendorong, mengatur, dan menjaga perilaku. Hal ini melibatkan
seseorang dan dorongan untuk belajar, bekerja secara efektif, dan mencapai
potensi mereka di lembaga Pendidikan, serta perilaku yang mengkuti dorongan
untuk belajar. Motivasi merupakan usaha yang didasari untuk
mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar orang tersebut terdorong untuk
bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi belajar adalah usaha seseorang untuk melakukan kegiatan belajar
yang didorong oleh hasrat atau keinginan untuk mencapai prestasi, cita-cita,
atau tujuan hasil belajar sebaik mungkin. Seseorang termotivasi belajar karena
pengaruh dari manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh. Motivasi
belajar yang tinggi berdasarkan
ketekunan untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan. Hal ini ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja
dalam menyelesaikan suatu tugas. Motivasi yang tinggi
dapat meninggkatkan aktivitas belajar peserta
didik.
Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis seseorang untuk berusaha
belajar secara sungguh-sungguh, kemudian akan terbentuk cara belajar seseorang
yang sistematis, efektif, penuh konsentrasi, dan dapat menyeleksi
kegiatan-kegiatannya sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Secara umum
motivasi belajar dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.
Motivasi Intrinsik
Menurut
Singgih (2008 : 50), motivasi intrinsik merupakan dorongan yang kuat berasal
dari dalam diri seseorang. Sedangkan John W Santrock (2003 : 476) mengatakan
motivasi intrinsik adalah keinginan dari dalam diri seseorang untuk menjadi
konpeten, dan melakukan sesuatu demi usaha itu sendiri. Thursan (2008 : 28)
mengemukakan motif intrinsik adalah motif yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu kegiatan.
Dari
beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan motivasi intrinsik adalah
motivasi yang kuat berasal dari dalam diri individu tanpa adanya pengaruh dari
luar yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Semakin kuat
motivasi intrinsik yang dimiliki, semakin memperlihatkan tingkah laku yang kuat
untuk mencapai tujuan (Singgih, 2008 : 50). Menurut Sri Hapsari (2005 : 74)
motivasi Intrinsik pada umumnya terkait dengan bakat dan faktor intelegensi
dalam diri siswa. Motivasi intrinsik dapat muncul sebagai suatu karakter yang
telah ada sejak seseorang dilahirkan, sehingga motifasi tersebut merupakan
bagian dari sifat yang didorong oleh faktor endogen, faktor dunia dalam, dan
sesuatu bawaan (Singgih, 2008 : 50), 14 Menurut Thursam (2008 : 29), seorang
siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan aktif belajar sendiri tanpa disuruh
guru maupun orang tua.
Faktor-faktor
yangmempengaruhi motivasi intrinsik antara lain :
1)
keinginan diri
2)
kepuasan
3)
kebiasaan baik
4)
kesadaran
2.
Motivasi Ekstrinsik
Menurut
Supandi (2011 : 61), motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul manakala
terdapat rangsangan dari luar individu. Menurut Thomas (2010 : 39) motivasi
ekstrinsikadalah
motivasi penggerak atau pendorong dari luar yang diberikan dari ketidak mampuan
individu sendiri. Menurut Jhon W Santrock (2003 : 476) berpendapat, motivasi
ekstrinsik adalah keinginan mencapai sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan
tujuan eksternal atau mendapat hukuman eksternal. John W Santrock (2003 : 476),
motivasi ekstrinsik adalah keinginan untuk mencapai sesuatu didorong karena
ingin mendapatkan penghargaan eksternal atau menghindari hukuman eksternal.
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan untuk berprestasi yang diberikan oleh orang
lain seperti semangat, pujian dan nasehat guru, orang tua, dan orang lain yang
dicintai.
Dari
berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi ektrinsik
dipengaruhi atau dirangsang dari luar individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
ekstrinsik antara lain:
1)
pujian
2)
nasehat
3)
semangat
4)
hadiah
5)
hukuman
6)
meniru sesuatu
Jenis motivasi dapat dilihat berdasarkan berbagai sudut pandang.
Beberapa jenis motivasi antara lain :
a.
Jenis
motivasi menurut Biggs dan Telfer (dalam
Dimyati dkk, 1994)tersebut dapat dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu :
1.
Motivasi instrumental
Motivasi instrumental artinyaseseorang belajar karena
didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman.
2.
Motivasi sosial
Motivasi sosial artinya seseorang belajar
untuk menyelesaikan tugas, dalam
hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol.
3.
Motivasi berprestasi
Motivasi berprestasi artinya seseorang belajar
untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang telah ditetapkannya.
4.
Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik artinya seseorang belajar
karena keinginannya sendiri, tumbuh
dari diri sendiri.
b.
Jenis motivasi
berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi tiga macam, antara lain :
1.
Motivasi takut
(fear motivation)
Motivasi
seseorang untuk melakukan suatu hal berdasarkan perasaan takut. Seseorang
melakukan kejahatan karena takut akan ancaman dari orang lain yang suka
melakukan kejahatan. Seseorang mematuhi peraturan lalu lintas bukan karena
sadar akan kewajibannya, tetapi karena takut mendapat ancaman.
2.
Motivasi
insentif (incentive motivation)
Motivasi
seseorang untuk melakukan perbuatan untuk mendapatkan sesuatu intensif.
Bentuk-bentuk intensif antara lain: honor, bonus, hadiah, penghargaan, piagam,
gaji, kenaikan pangkat, promosi jabatan.
3.
Sikap atau
attitude motivation (self motivation)
Motivasi
seseorang untuk melakukan suatu hal muncul dari dalam dirinya sendiri. Berbeda
dengan motivasi sebelumnya yang datang dari luar diri sendiri. Sikap merupakan
suatu motivasi yang menunjukan ketertarikan atau ketidaktarikan seseorang akan
suatu hal. Motivasi ini timbul dari diri sendiri karena adanya rasa senang atau
suka akan suatu hal.
c.
Jenis motivasi
berdasarkan dasar pembentukannya dibedakan menjadi dua macam, antara lain :
1. Motivasi
bawaan
Motivasi yang dibawa sejak lahir,
jadi motivasi ini tanpa dipelajari.
2.
Motivasi yang dipelajari
Motivasi yang timbul karena
dipelajari.
d.
Jenis
motivasi menurut Abraham Maslow yang
mendorong perbuatan seseorang dapat dibedakan
menjadi 5 golongan, yaitu:
1.
Motivasi
fisiologi
Dorongan
seseorang untuk memenuhi kebutuhan jasmani, seperti kebutuhan makan, minum,
bernafas, bergerak, dan kebutuhan lainnya.
2.
Motivasi pengamanan
Dorongan
untuk menjaga atau melindungi diri dari gangguan, baik gangguan alam, hewan,
iklim, maupun manusia.
3.
Motivasi
persaudaraan dan kasih saying
Dorongan
untuk membina hubungan baik, kasih sayang, atau persaudaraan.
4.
Motivasi harga
diri
Motivasi
untuk mendapatkan pengenalan, pengakuan, penghargaan, dan penghormatan dari
orang lain. Manusia merupakan makhluk sosial yang melakukan interaksi dengan
orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari orang lain.
5.
Motivasi
aktualisasi diri
Manusia
memiliki potensi diri yang dibawa dari kelahirannya dan kodratnya sebagai
manusia. Potensi dan kodrat ini perlu diaktualisasikan atau dinyatakan dalam
berbagai bentuk sifat, kemampuan, dan kecakapan nyata. Melalui berbagai upaya
untuk belajar manusia berusaha mengaktualkan semua potensi miliknya.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan motivasi belajar, antara lain lingkungan budaya, keluarga, sekolah
dan seseorang itu sendiri. Motivasi belajar bisa muncul karena ambisi orang tua
atau sistem peringkat di sekolah. Memaksa peserta didik menerima beban melebihi
kemampuannya tentu saja membuat peserta didik tidak berkembang secara sehat.
Keinginan menciptakan peserta didik baik dan hebat justru bisa menghasilkan
peserta didik yang bermasalah.
Motivasi belajar berfungsi menimbulkan, mendasari, dan
menggerakan perbuatan untuk belajar. Berdasarkan penelitian melalui observasi
langsung, kebanyakan peserta didik yang motivasinya tinggi akan berusaha tekun,
tampak gagah, tidak menyerah, dan tekun membaca untuk meningkatkan hasil
belajar serta memecahkan permasalahannya. Sebaliknya peserta didik yang
motivasinya rendah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak
tertuju pada pembelajaran, akibatnya peserta didik akan mengalami kesulitan
belajar. Motivasi mendorong seseorang, mengarahkan perbuatan serta memilih
tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupannya.
Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar antara
lain :
1.
Cita-cita atau
aspirasi peserta didik
Motivasi belajar tampak pada
keinginan peserta didik sejak kecil. Keberhasilan mencapai keinginannya
tersebut menumbuhkan kemauan mewujudkan cita-cita hidupnya. Tumbuhnya cita-cita
dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa, dan nilai-nilai
kehidupan, serta kepribadiannya.
2.
Kemampuan siswa
Keinginan peserta didik
tentu disesuaikan dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan
akan memperkuat motivasi peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
3.
Kondisi peserta
didik
Kondisi peserta didik
meliputi jasmani dan rohani yang dapat mempengaruhi motivasi belajar. Rasa
sakit, lapar, marah-marah, sehat, kenyang, atau gembira akan mempengaruhi
motivasi belajar.
4.
Kondisi
lingkungan siswa
Keadaan alam, lingkungan
tempat tinggal, pergaulan teman, dan kehidupan kemasyarakatan dapat
mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Bencana alam, tempat tinggal yang
kumuh, ancaman teman yang nakal, perkelahian antar peserta didik dapat
mengganggu kesungguhan belajar peserta didik. Oleh karena itu kondisi
lingkungan yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan sangat dibutuhkan
untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar peserta didik.
5. Unsur
dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Perasaan,
perhatian, kemauan, dan pikiran peserta didik dapat mengalami perubahan berkat
pengalaman hidup. Lingkungan budaya peserta didik berupa surat kabar, majallah,
radio, televisi, dan film mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Oleh
karena itu, tenaga pendidik diharapkan mampu memanfaatkan semua itu untuk
mewujudkan kondisi dinamis yang baik bagi pembelajaran dan untuk motivasi
belajar.
6. Upaya guru
dalam membelajarkan siswa
Guru adalah
tenaga pendidik yang professional yang berpengaruh pada perkembangan belajar
peserta didik. Sebagai pendidik yang professional seharusnya dapat memilih dan
memilah hal yang baik dan buruk. Partisipasi dan teladan perilaku yang baik
adalah salah satu upaya membelajarkan peserta didik. Upaya pembelajaran dapat
terjadi di luar sekolah maupun di dalam sekolah. Upaya pendidikan luar sekolah
yang penting adalah keluarga, Lembaga agama, pramuka, dan pusat Pendidikan
pemuda lainnya. Guru professional diharuskan dapat menjalin kerja sama yang
baik dengan pihak-pihak lain tersebut.
Menurut pendapat Malcom Brownlee,
faktor-faktor mempengaruhi motivasi belajar adalah:
1. Faktor
Guru
Seseorang dikatakan sebagai guru tidak
cukup “tahu” sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus
merupakan seseorang yang memang memiliki “kepribadian guru” dengan segala ciri tingkat
kedewasaannya dan memiliki kepribadian. Untuk itu perlu dikemukakan dalam
pembahasan ini sepuluh kompetensi guru yang berkaitan erat dengan tugasnya
membentuk motivasi belajar siswa di sekolah antara lain :
(1) menguasai bahan atau materi
pengajaran,
(2) mengelola program belajar mengajar,
(3) Pengelolaan kelas
(4) menggunakan Media dan sumber belajar
(5) menguasai landasan-landasan
kependidikan
(6) mengelola interaksi belajar-mengajar
(7) menilai prestasi siswa untuk
kepentingan pengajaran
(8)
mengenal fungsi dan program bimbingan & penyuluhan
(9)
mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
(10) mengenal prinsip-prinsip dan
menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna kepentingan pengajaran
2. Faktor
Orangtua
Faktor orangtua dalam keluarga sangat
menentukan juga karena mereka adalah mitra para guru dalam bekerja bersama-sama
untuk tujuan tersebut. Orangtua tidak cukup puas hanya menyerahkan urusan dan
tanggung jawab ini pada guru.
3. Faktor
Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat tempat
berdomisili siswa menjadi unsur yang turut dipetimbangkan dalam proses
pembentukan motivasi siswa, karena siswa juga adalah bagian ataupun warga dari
suatu masyarakat. Malcom Brownlee mengemukakan konsep yang memperlihatkan
ketergantungan ini dengan mengemukakan “Manusia dalam masyarakat dan masyarakat
dalam manusia.” Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsep manusia dalam masyarakat
mengisyaratkan ketergantungan bahwa individu sebagai bagian dalam komunitas
yang memiliki sistem nilai sosial yang
saling mengikat dan mempengaruhi setiap individu yang hidup bersama dalam
sebuah komunitas, baik komunitas masyarakat kota ataupun masyarakat desa dan
atau kelompok belajar seperti siswa pada suatu sekolah.
Morgan,dkk
(1986) mengemukakanempatteorimotivasiyaitu :
1.
Teori Drive
Teori ini digambarkan sebagai teori dorangan motivasi, Menurut teori ini perilaku “didorong”
kearah tujuan dengan kondisi drive
(tergerak) dalam diri manusia atau hewan. Menurut teori ini motivasi terdiri dari :
a. Kondisi bergerak
b. Perilaku diarahkan ketujuan yang diawali dengan kondisi tergerak
c. Pencapaian tujuan secara cepat
d. Reduksi kondisi tergerak dan kepuasan subjektif dan kelegaan tatkala tujuan tercapai.
2. Teori Insentif
Berbeda dengan teori drive, teori ini digambarkan sebagai teori pull (tarikan). Menurut teori ini, objek tujuan menarik perilaku kearah mereka.
Objek tujuan
yang memotivasi perilaku dikenal sebagai insentif. Bagian terpenting teori intensif adalah individu mengharapkan kesenangan dari pencapain dariapada yang disebut intensif positif dan menghindari apa yang disebut sebagai intensif negatif.
3. Teori Opponment-process
Teori ini mengambil pandangan hedonistic
tentang motivasi,
yang memandang bahwa manusia dimotivasi untuk mencari tujuan yang memberi perasaan emosi senang dan menghindari tujuan yang dihasilkan ketidak senangan.
4. Teori Optimal-level
Menurut teori ini individu dimotivasi untuk berperilaku dengan cara tertentu untuk menjaga level optimal
pembangkitan yang menyenangkan.
Elliot, dkk(1996) mengemukan empat teori motivasi yang saat ini banyak dianut yaitu:
1. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Menurut teori ini, orang termotivasi terhadap suatu perilaku karena ia memperoleh pemuasan kebutuhannya. Ada lima
tipe dasar kebutuhan dalam teori Maslow yaitu :
a. Kebutuhan fisiologis,
b. Kebutuhan akan rasa aman,
c. Kebutuhan akan cinta dan memiliki,
d. Kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.
2. Teori Kognitif Brunner
Kunci untuk membangkitkan motivasi bagi Brunner adalah discovery learning. Siswa dapat melihat makna pengetahuan,
keterampilan dan sikap bila mereka menemukan semua itu sendiri.
3. Teori Kebutuhan Prestasi
Mc Clelland (dalam Elliot,1996) menyatakan bahwa individu yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi adalah mereka yang berupaya mencari tantangan, tugas-tugas
yang cukup sulit,
dan ia mampu melakukannya dengan baik, mengharapkan umpan balik yang mungking,
serta ia
juga mudah merasa bosan dengan keberhasilan yang terus menerus.
4. Teori Atribusi
Teori ini bersandar pada tugas asumsi dasar (Petri, dalam
Elliot, dkk, 1996).
a. Pertama,
orang ingin tahu penyebab perilakunya dan perilaku orang lain.
b. Kedua,
mereka tidak menetapkan penyebab perilaku mereka secara random. Ada
penjelasan logis tentang penyebab perilaku yang berhubungan dengan perilaku.
c. Ketiga,
penyebab perilaku
yang ditetapkan individu mempengaruhi perilaku berikutnya.
Jadi,
menurut teori yang dikemukakan oleh Elliot,dkk perilaku seseorang ditentukan bagiamana kontribusinya terhadap penyebab perilaku yang sama sebelumnya.
Menurut Makin dan Mudzakir (2002),
berbagai bentuk motivasi yang dikemukakan oleh para psikolog hanya bersifat
duniawi dan berjangka pendek, juga tidak menyentuh aspek-aspek spiritual dan
ilmiah. Dalam islam motivasi diakui berperan penting dalam belajar. Sebab
seseorang bila mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu dan
didukung oleh kondisi yang ada, maka ia akan mencurahkan segenap upaya yang diperlukan
untuk mempelajari metode-metode yang tepat guna mencapai tujuan tertentu,
apabila ia menghadapi suatu masalah dan merasa sangat perlu untuk memecahkannya
maka biasanya ia akan melakukan berbagai upaya untuk itu sehingga menemukan
solusi yang tepat (Najati, 2003). Teknik-teknik motivasi dalam Al-Quran
mencakup tiga bentuk (Najati,2003) yaitu:
1. Janji
dan Acaman. Al-Quran menjanjikan pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang
beriman dalam surga dan ancaman yang akan menimpa orang-orang kafir dalam neraka.
Janji dan ancaman ini menimbulkan harapan dan rasa takut yang merupakan jaminan
bagi tumbuhnya dorongan yang kuat bagi diri kaum muslim untuk melakukan amal
yang baik selama hidup didunia termasuk belajar.
2. Kisah
yaitu menyajikan berbagai peristiwa, kejadian dan pribadi yang dapat menarik
perhatian dan menimbulkan daya tarik bagi pendengarnya untuk mengikutinya dan
membangkitkan berbagai kesan dan perasaan yang membuat mereka terlibat secara
psikis serta terpengaruh secara emosional.
3. Pemanfaatan
peristiwa penting yaitu menggunakan beberapa peristiwa atau persoalan penting
yang terjadi yang bisa menggerakan emosi, menggugah perhatian dan menyibukkan
pikiran. Al-Quran menggunakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum
muslimin sebagai suri teladan yang berguna dalam kehidupan mereka hal itu
membuat mereka lebih siap dan lebih menerima untuk mempelajari dan menguasai
keteladan tersebut.
Motivasi mendasari semua perilaku individu, bedanya pada sesuatu perilaku mungkin dirasakan dan disadari
pada perilaku lain tidak, pada sesuatu perilaku sangat kuat dan pada perilaku
lain kurang. Bagi seorang
guru atau pendidik peranan motivasi ini penting sekali. Mendidik atau mengajar merupakan pekerjaan yang rumit
dan kompleks. Kompleks karena banyak hal yang harus difahami, dipersiapkan
dan dilakukan. Rumit karena subjek didik adalah manusia yang serba misterius. Mendidik dan
mengajar memerlukan kesabaran, ketekunan,
ketelitian, tetapi juga kelincahan dan kreativitas. Semuanya itu membutuhkan adanya motivasi mendidik dan mengajar
yang cukup tinggi dari guru atau pendidik, agar ia tidak lekas bosan, dan putus asa.
Demikian
juga halnya dengan
proses belajar yang dijalani
siswa.
Belajar merupakan
proses yang panjang, ditempuh
selama bertahun-tahun. Belajar membutuhkan motivasi yang secara konstan tetap tinggi dari para siswanya.
Agar para siswa memiliki motivasi yang tinggi,
beberapa usaha perlu dilakukan oleh guru
untuk membangkitkan motivasi ini. Beberapa usaha yang dapat lakukan oleh guru, di
antaranya adalah:
1. Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang
diberikan.
Tujuan yang jelas dan manfaat yang
betul-betul dirasakan
oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar.
2. Memilih materi atau bahan pelajaran yang
betul-betul dibutuhkan
oleh siswa.
Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik minat siswa, dan minat merupakan salah satu bentuk motivasi.
3. Memilih cara penyajian yang
bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan
berpartisipasi.
Banyak berbuat dalam belajar bagaimana pun juga akan lebih membangkitkan semangat dibandingkan dengan hanya mendengarkan. Oleh
karena itu
guru perlu menciptakan berbagai kegiatansiswa di dalam kelas.
4. Memberikan sasaran dan
kegiatan-kegiatan antara.
Sasaran akhir dari kegiatan belajar siswa adalah lulus dari ujian akhir. Menempuh ujian akhir ini, bagi siswa yang baru masuk merupakan kegiatan yang masih terlalu lama, oleh
karena itu perlu diciptakan sasaran dan kegiatan antara seperti ujian semester. Ujian
semester pun masih terlalu jauh sebab akan dilakukan empat atau lima bulan kemudian. Untuk itu diperlukan kegiatan-kegiatan yang
lebih dekat,
umpamanya ujian bulanan, mingguan dsb. Hal itu dilakukan sesuai dengan salah satu prinsip motivasi, bahwa semakin dekat kepada sasaran atau tujuan maka akan semakin terrmotivasi.
Supaya motivasi ini besar maka tujuan atau sasaran-sasaran tersebut harus didekatkan.
5. Berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses.
Sukses yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, dan sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi. Berikanlah tugas, latihan dsb. yang kira-kira dapat dikerjakan dengan baik oleh siswa, agar
siswa memperoleh siswa sukses. Apabila di
kelas ada siswa yang kemampuannya kurang, berikanlah tugas yang lebih sederhana atau lebih mudah, supaya diapun memperoleh sukses.
6. Berikanlah kemudahan dan bantuan dalam belajar.
Tugas guru atau pendidik di sekolah adalah membantu perkembangan siswa. Agar
perkembangan siswa lancar, berikanlah kemudahan- kemudahan dalam belajar, dan jangan sebaliknya guru
mempersulit perkembangan belajar yang dialami siswa. Apabila siswa mengalami kesulitan atau hambtan dalam belajar, berikanlah bantuan, baik langsung oleh guru,
maupun memberi petunjuk kepada siapa atau kemana meminta bantuan.
7. Berikanlah pujian, ganjaran atau hadiah.
Untuk membangkitkan motivasi belajar secara sederhana guru dapat melakukannya melalui pemberian pujian. Pujian akan membangkitkan semangat, tetapi sebaliknya kritik, cacian, dan
kemarahan akan membunuh motivasi belajar. Apabila keadaan memungkinkan untuk sukses-sukses tertentu, seperti siswa yang mengerjakan tugas dengan baik, mendapatkan nilai terbaik dsb., dapat diberi ganjaran atau hadiah.
8. Penghargaan terhadap pribadi anak.
Bagaimana
pun ampuhnya ketujuh upaya pembangkitan motif di
atas, perlu dilandasi
oleh sikap dan penerimaan yang wajar
dari
guru terhadap keberadaan
dan pribadi siswa.
Motif keempat dari
Maslow adalah motif harga
diri(self
esteem). Harga diri ini bukan hanya dimiliki oleh orang
dewasa tetapi
juga anak-anak. Sikap menerima siswa sebagaimana adanya, menghargai pribadi siswa, memberi kesempatan kepada siswa mencobakan jalan pikirannya sendiri.
Dari
berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (dalam Prasetya, 1997) menyusun
seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik
dalam proses belajar mengajar yang disebut sebagai model ARCS.
Dalam model tersebut ada 4 kategori kondisi motivasional yang harus
diperhatikan guru agar proses pembelajaran yang dilakukannya menarik, bermakna,
dan memberi tantangan pada siswa. Keempat kondisi tersebut adalah:
1. Attention
(Perhatian)
Perhatian siswa muncul didoroong rasa
ingin tahu. Oleh karena itu rasa ingin thau ini perlu mendapat rangsangan
sehingga siswa selalu memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang
diberikan. Agar siswa berminat dan memperhatikan materi pelajaran yang
disampaikan guru dapat menyampaikan materi dan metode secara bervariasi,
senantiasa mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, dan
banyak menggunnakan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk memperjelas
konsep.
2. Relevance
(Relevansi)
Relevansi menunjukkan adanya hubungan
antera materi pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan
terpelihara apabila siswa menganggap apa yang dipelajari memnuhi kebutuhan
pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
3. Confidence
(Kepercayaan diri)
Merasa diri kompeten atau mampu
merupakan potensi unruk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan.
Bandura (1977) mengembangkan konsep tersebut dengan mengajukan konsep self efficacy. Konsep tersebut
berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk
melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Self efficacy tinggi akan semakin mendorong dan memotivasi siswa
untuk belajar tekun dalam mencapai prestasi belajar maksimal. Agar kepercayaan
diri siswa meningkat guru perlu memperbanyak pengalaman berhasil siswa misalnya
dengan menyusun aktivitas pembelajaran sehingga mudah dipahami, menyusun
kegiatan pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, meningkatkan
harapan untuk berhasil dengan menyatakan persyaratan untuk berhasil, dan
memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses pembelajaran.
4. Satisfaction
(Kepuasan)
Keberhasialan dalam mencapai tujuan akan
menghasilkan kepuasan, dan siswa akan semakin termotivasi untuk mencapai tujuan
yang serupa. Kepuasan dalam penapaian tujuan dipengaruhi oleh konsekuensi yang
diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Untuk
meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat member penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian
kesempatan dan sebagainya.
Kesimpulan
dari makalah diatas adalah
1.
Motivasi
belajar adalah suatu dorongan atau daya penggerak dari dalam diri individu yang
memberikan arah dan semangat pada kegiatan belajar, sehingga dapat mencapai
tujuan yang dikehendaki.
2. Sebagai
kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang tertentu, yaitu
jenismotivasi menurut Biggs dan Telfer,
jenis motivasi berdasarkan sifatnya, jenis motivasi
berdasarkan dasar pembentuknya, dan jenis motivasi menurut Abraham Maslow
3. Motivasi
belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik
dari dalam diri peserta didik maupun dari luar atau lingkungannya.
4. Terdapat beberapa teori mengenai motivasi belajar
menurut beberapa ahli diantaranya Morgan,dkk dan menurut Elliot,dkk, adapun semua teori yang dikemukakan mengacu pada
dasar motivasi belajar terbentuk.
5. Motivasi belajar menurut konsep islam yaitu motivasi
diakui berperan penting dalam belajar. Sebab seseorang bila mempunyai motivasi
yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu dan didukung oleh kondisi yang ada,
maka ia akan mencurahkan segenap upaya yang diperlukan untuk mempelajari
metode-metode yang tepat guna mencapai tujuan tertentu.
6. Dalam
pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi
belajar, diantaranya dengan menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang
diberikan, memilih materi atau bahan pelajaran yang
betul-betul dibutuhkan
oleh siswa, berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses, dan lain sebagainya. Maupun dengan model ARCS yaitu
dengan memperhatikan kondisi motivasional dalam proses pembelajaran.
DAFTARPUSTAKA
Sugihartono, dkk.2013. Psikologi
Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Nurjan, Syarifan.2015.Psikologi
Belajar. Ponorogo: Wade Group.
Khodijah.2014.Psikologi
Pendidikan.Jakarta:RajaGrafindo Persada
Samosir, Marianto.Psikologi
Pendidikan:teori dan praktek.2009.Jakarta
No comments:
Post a Comment