Thursday, 19 March 2020

LAPORAN OBSERVASI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA (TUGAS ILMU PENDIDKAN)


TUGAS ILMU PENDIDKAN
LAPORAN OBSERVASI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Laporan ini disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ilmu Pendidikan
(MDK 6201)
Logo_uny.gif
Dosen Pembimbing
Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd., M.Pd.
Disusun Oleh :
Zulfa Lutfi Anisa
19302241013

Kelas
Pendidikan Fisika A

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
Museum Pendidikan Indonesia (Yogyakarta)
          Senin 28 Oktober 2019 saya dan teman sekelas mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di kampus kita tepatnya di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Kunjungan ini dilakukan guna memenuhi tugas dari Ibu Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd.,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan di kelas saya. Beliau telah membuat kesepakatan dengan kami kelas Pendidikan Fisika A tentang tugas untuk dimasukkan sebagai nilai UTS, kemarin beliau memberikan beberapa pilihan untuk tempat yang kita kunjungi. Sehingga dilakukan voting atau pengambilan suara terbanyak untuk mentukan tepat yang akan kami kunjungi. Ibu Evi memberikan pilihan antara kunjungan ke museum Pendidikan di UNY atau museum Taman Siswa yang letaknya diluar area UNY. Karena mengingat setelah mata kuliah Ilmu Pendidikan ada matakuliah lain sehingga tidak memungkinkan untuk keluar area kampus yang jaraknya lumayan memakan waktu sedangkan jeda pergantian matakuliah berikutnya hanya sepuluh menit, sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di UNY.
            Setelah semuanya setuju giliran Ibu Evi menentukan penugasan yang harus dikumpulkan, yaitu kami diwajibkan setiap anak harus mengumpulkan paper yang isinya berkaitan dengan peristiwa atau segala sesuatu yang kami alami atau yang ada saat mengunjungi museum. Dengan semangatnya kami sekelas menyetujuinya.
            Saya memulai hari saya dengan bangun tidur, senin kali ini berbeda dari senin-senin yang sudah saya jalani selama laporan praktikum fisika dasar menghampiri hidup saya, ini karena laporan praktikum yang biasanya saya kerjakan semalaman, namun kali ini laporan saya sudah selesai meskipun dibalik keberuntungan saya ini ada kejadian yang sangat menguras kesabaran saya, namun karena pada awal saya masuk UNY mempunyai visi yang mengharuskan saya untuk lebih bisa berorientasi kedepan, dimana pada jurusan yang saya ambil ini mengharuskan saya untuk mempunyai dan dapat mengembangkan kesabaran saya selaku calon pendidik. Kejadian yang pada awalnya membuat saya terbang melayang seketika dijatuhkan begitu saja, sakit emang tetapi ini semua juga sudah ada yang mengatur, jai ceritanya saya diajak kakak saya untuk nonton tetapi karena masih ada tanggungan kerja yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga kakak saya membatalkannya secara sepihak. Seketika saya sedih, murung, menyesal sudah mengorbankan waktu rebahan saya. Namun sungguh luar biasa takdir Allah itu, dibalik semuanya saya menjadi bisa menyelesaikan laporan praktikum saya tanpa terburu-buru dan kalaupun ingin saya koreksi masih punya banyak waktu, dan saya sangat bersyukur kareana nilai laporan praktikum saya yang pada percobaan kali ini tertinggi dari nilai-nilai laporan praktikum saya sebelumnya. Lewat kejadian ini saya jadi tahu bahwa tidak semua kekecewaan membawa keburukan, jika kita pandai dalam memaknai sebuah peristiwa pasti akan ada hal yang akan membuat kita bersyukur akan semuanya.
            Berhubung laporan praktikum saya sudah selesai, senin ini saya berangkat kekampus lebih awal dari biasanya, sehingga jalanan masih terbilang belum ramai apalagi macet, karena sabtu, minggu saya tidak ada kelas karena hari libur saya pulang ke Bantul dan tidak tidur di kosan saya, sehingga sepagi apaun saya berangkat dari rumah tetap saja sesampainya di kampus tetap mepet dengan jam kelas. Namun satu hal yang menolak saya untuk lupa yaitu ketika diparkiran saya bertemu dengan sesorang yang sudah banyak menginspirasi saya, meskipun dia belum mengenal saya tetapi yang terpenting saya masih diberikan kesempatan untuk selalu melihat dan mendengar segala nasihat juga motivasi yang dia sampaikan,yang itu sangat membaut saya lebih mengerti tentang hidup.
Satu setengah jam saya mengarungi lautan kendaraan, yang ini sangat menguji kesabaran saya, karena berbagai macam tujuan yang berbeda, gaya mengendarai motor yang beda, pemahaman tentang berkendara yang berbeda, pokokny serba beda semua jadi satu dalam arus dan lintasan yang sama, namun kali ini tidak separah dengan hari-hari saya yang sudah lalu, karena beruntungnya saya berangkat lebih pagi dari hari-hari kemarin. Sesampainya diparkiran saya melihat beberapa mahasiswa memakai almamater yang dimana saya mengetahui sebab mereka memakai almamater, yang tak lain dan tak bukan yaitu untuk mengikuti upacara bendera memperingati hari sumpah pemuda. Adapun seluruh calon maupun yang sudah resmi sebagai mahasiswa penerima bidikmisi diwajibkan untuk menghadirinya. Sehingga saya sangat merasa kurang nyaman dengan saya saat itu karena terpaksa saya harus ijin guna mengikuti UTS yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan upacara bendera.
Disamping itu saya juga sudah harus menyalin hasil praktikum Analisis Rangkaian Listrik di buku kelompok, yang nantinya setelah matakuliah Ilmu Pendidikan usai kita lanjut praktikum bab selanjutnya. Setelah saya mengumpulkan laporan praktikum saya di depan pintu laboratorium fisika dasar, saya lanjut menyelesaikan kegiatan menyalin saya tadi, sambil menunggu teman-teman saya yang masih menyelesaikan laporan praktikum mereka, untung-untung cari teman ketika ke musiumnya nanti. Karena bolpoint saya tintanya habis terpaksa saya meminjam bolpoint kepada teman saya, dan ternyata bolpoint kita senasib bedanya punya temen saya masih ada sisa-sisanya jadi masih mendingan daripada punya saya. Setelah itu saya dan teman saya menuju museum bersama-sama, sepanjang perjalanan saya bersama teman saya berbincang masalah penugasan ini yang dimana kami membicarakan bagaimana caranya agar cerita kita nanti bisa panjang dan banyak, sehingga saya mencoba membuat adegan yang membuat teman saya terkejut, saya yang awalnya hanya berniat bercanda namun jadi bahan seriusan bagi teman-teman saya. Saya sengaja mendorong teman saya kejalan ketika kita bersamaan jalan di trotoar, namun dari arah belakang ternyata ada mobil yang melintas, bersyukurnya mobil tadi melaju ketengah sehingga teman saya masih bisa selamat. Jujur saya memang masih seperti anak kecil yang masih labil, belum berpendirian, masih suka bergantung kepada orang lain, kadang menyelesaikan masalah dengan menangis karena takut memikul masalah sendiri. Maafkan aku teman yang masih suka merepotkan kalian, membuat kalian kecewa, sedih , terganggu, dan pastinya jengkel dengan sifatku.
Sesampainya di museum kami sekelas menunggu museum dibuka yaitu pukul delapan pagi. Disela-sela waktu menunggu saya menyempatkan untuk melanjutkan untuk menyalin laporan sementara saya tadi. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menjajakan dagangannya kepada saya dan teman-teman saya. Dalam benak saya merasa kasihan dengan ibunya, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya harga kue yang dijualnya, karena dirasa harga kuenya terlalu menguras kantong saya juga teman saya, akhirnya dari kami tidak ada yang membelinya. Kemudian salah satu teman saya berniatan untuk membeli kue Ibu tadi atas dasar takut menyakiti perasaan ibunya, karena menurutnya menjajakan makanan, ada kala kita merasa sakit hati dan kecewa dengan penolakan calon pembeli, sehingga teman saya tidak ingin itu semua terjadi. Namun sayang niatannya tadi kalah cepat dengan langkah kaki Ibunya, sehingga teman saya tidak jadi membelinya, alhasil kami masih menunggu museum buka didampingi dengan celoteh-celoteh yang tidak jelas arahnya entah berbincang tentang cowo, dosen, teman, sampai-sampai kebosanan melanda kita, namun ada saja hal yang dapat membangun suasana kembali seru, yaitu selfie bareng.
Setelah beberapa saat dirasa semuanya sudah kumpul, naufal ketua kelas kita mengajak untuk langsung masuk saja ke museum tidak perlu menunggu jam delapan, karena sebenarnya dari awal kita sampai di museum tadi sudah buka, tetapi karena Ibu Evi tidak bisa hadir karena mengikuti upacara bendera yang dimana saya ijin untuk tidak menghadirinya tetapi Ibu Evi ijin untuk datang terlambat di kelas kami untuk mengikuti memperingati hari sumpah pemuda, terpaksa kita masuk museum dan memulai jelajah museum tanpa Ibu Evi.
Sebelum memulai jelajah terlebih dahulu kami ditanya oleh penjaga museum mau lihat-lihat dulu apa mau nonton film dulu. Karena dirasa dari kami belum lengkap, sehingga kami memilih untuk lihat-lihat dulu dan dilanjut nonton filmnya. Setelah itu kami diarahkan untuk masuk edalam ruangan museum dengan satu pemandu, yang akan memandu kami selama menjelajah museum nanti. Kami dikumpulkan persis didepan pintu masuk sebelah dalam museum yang tepatnya didepan kami berkumpul terdapat gambar logo dan gambaran sejarah asal terbentuknya museum pendidikan Indonesia ini, dari yang ada di UNY sampai yang udah tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
Adapun Jelajah museumnya dimulai dengan penjelasan tentang sejarah terbentuknya Museum Pendidikan Indonesia terkhusus yang ada di UNY. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang memiliki banyak museum. Tidak mengheranan rupanya karena Yogyakarta memang merupakan kota yang memiliki sejarah dan budaya yang kental. Museum yang ada juga tidak lepas dari kisah pendatang ke Yogyakarta atau bekas kisah Belanda. Dari semua museum yang ada, ada salah satunya bernama Museum Pendidikan Indonesia.
Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Yogyakarta merupakan salah satu museum pendidikan yang ada di Indonesia. Museum pendidikan ini merupakan museum pendidikan pertama di Indonesia. Dan museum pendidikan berikutnya disusul oleh Museum Pendidikan Malang yang ada di Malang, Museum Pendidikan Nasional yang berada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Museum ini berada di kawasan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berada di barat laut gedung Rektorat UNY, yang beralamat di Jl. Colombo.No 1, Karangmalang, Depok, Sleman, Yogyakarta. Awalnya UNY merupakan satukesatuan dari beberapa universitas negeri dibeberpapa daerah yang tergabung dalam perguruan tinggi bernama IKIP. Awalnya UNY merupakan bagian dari IKIP, Kemudian pada tahun 1964 ada surat keppres yang memerintahkan untuk mengabungan fakultas pedagogik dan ilmu keolahragaan hanya menjadi satu sebagai ilmu keguruan dan pendidikan, IKIP juga terdapat diluar jogja juga, diantaranya surabaya, jakarta, bandung, semarang, karena IKIP cakupannya lebih sedikit daripada fakultas maka daerah-daerah tadi yang tergabung dalam IKIP akhirnya diubah menjadi Universitas Negeri. Adapun ketika masih menjadi bagian dari IKIP tempat yang sekarang dibangun museum adalah tempat rektorat IKIP pertama, yang sekarang beralih fungsi setelah menjadi Universitas Negeri. Museum Pendidikan Indonesia ini diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X pada tanggal 08 Juli 2008.
Pengagas berdirinya MPI UNY adalah Rektor UNY pada saat itu, Prof.Dr.Sugeng Mahadiono Phd. MPI didirikan karena pada saat itu belum ada museum pendidikan, serta sebagai dedikasi bagi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melalui museum ini disampaikan bahwa kejayaan bangsa ini merupakan hasil dari harmonisasi antara tujuan perjuangan dan semangat untuk menuntut ilmu.
Museum Pendidikan Indonesia ini mempunyai visi untuk menjadikan memori kolektif sebagai wahana menciptakan insan yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sedangkan tujuan dibangunnya museum ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat dan civitas akademika tentang eksistensi dan peran museum pendidikan. Museum ini juga sebagai penghargaan bagi para perintis, tokoh, dan pejuang pendidikan nasional.
 MPI sendiri terbagi atas lima ruangan inti, memasuki ruangan pertama terdapat beberapa koleksi Museum Pendidikan UNY yang didapatkan dari hibah, pembelian, dan penitipan. Pada saat itu karena MPI UNY merupakan museum pendidikan pertama di Indonesia sehingga banyak menarik banyak orang yang menghibahkan berbagai koleksi yang berhubungan dengan pendidikan, serta pembelian dari beberapa koleksi milik orang lain yang memiliki sejarah tersendiri dalam bidang pendidikan. Selain itu MPI UNY juga mendapatkan koleksi dari museum Dewantara Kirti Griya dan arsip kurikulum dari kementrian. Disana juga dipajang berbagai hasil karya sekaligus prestasi mahasiswa UNY, diantaranya mobil garuda dari UKM tingkat Universitas khususnya bidang Restek (Rekayasa Teknologi) yang tersusun atas 2 motorik pengerak penggerak listrik bagian depan , dan pengerak motor pada bagian belakang mobil, dan dapat menjuarai kontes di korea. Serta Robot boneka cantik UNY bernamana Rosemerry yang termasuk di bidang robotic, serta mampu menjuarai kontes bagian seni (kontes robot  indonesia)  2017, dengan meraih penghargaan juara 1.
Galeri pertama merupakan galeri khusus untuk sejarah pendidikan. Di galeri ini adalah foto-foto menteri pendidikan dari awal yakni Ki Hadjar Dewantara hingga yang terakhir yakni Mohammad Nuh. Untuk menteri yang terbaru belum tertempel di galeri ini. Serta pada ruanagn sebelah utara terdapat pajangan foto-foto rector UNY dari yang pertama sampai yang dua tahun terakhir sebelumnya, sehingga belum terpasang untuk foto rector yang sekarang dan rektor sebelumnya. Pada ruangan ini terdapat pula pajangan baju almamater UNY dan almamater sebelum resmi menjadi Universitas Negeri, yang ditunjukan dengan warna almamater yang menyerupai alammater UGM saat ini, hal ini dikarenakan pada saat menjadi bagian dari IKIP, UNY tergabung dengan UGM dan setelah adanya keppres yang mengharuskan pemisahan ilmu pendidikan dengan yang non pendidikan, sehingga mengharuskan UNY untuk membentuk dan memisahkan diri dari UGM dan membuat identitas sendiri seperti alammater yang sekarang tak lagi sama dengan yang dulu. Sekarang almamater berwarna biru dengan logo UNY di bagian kiri atas dada, yang ini juga dipajang di museum, sebagai bentuk sejarah pendidikan yang pernah dialami UNY. Adapula foto aktivitas kelas dari zaman proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, media pembelajaran, daun rontal baik itu mentah, setengah jadi maupun yang sudah ditulisi bolpoin, spidol, pensil, bahkan tinta. Kemudian ada juga alat hitung dan masih banyak yang lainnya. Mungkin dapat dikatakan sebuah perkembangan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu zaman dahulu tidak menggunakan bolpoin dan kertas namun daun rontal.
Memasuki ruang galeri ke-2, kami disuguhi berbagai barang koleksi peralatan tulis menulis pada masa itu dari periode ke periode, namun sebelum kami dijelaskan mengenai semua yang ada di dalam ruangan itu terlebih dahulu kami diberikan arahan dan peratuan yang menjadi kesepakatan setiap pengunjung utuk wajib mentaatinya, diantaranya dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang mencoret-coret hal apaun yang ada disana, dilarang memegang batu koleksi museum, karena sifat batu yang juga bisa mengalami korosi seperti layaknya besi, pemandu kemudian memaparkan tentang perbandingan batu candi yang dijaga baik-baik tanpa ada yang menyentuhnya akan terlihat lebih jelas pori-pori batu, namun lain hal dengan batu yang dibiarkan dipegang oleh tangan siapapun seperti berbagai candi di beberpa tempat wisata yang banyak orang menyentuhnya, maka tekstur candi akan cenderung lebih halus dan sedikit terlihat pori-porinya. Sedangkan jiklau ingin mengambil foto atau gambar koleks dipersilahkan.
Dalam dunia pendidikan terdapat adanya Periodesasi Sejarah Pendidikan terkhusus di Indonesia diantaranya :
a.       Zaman Purba (Pendidikan Pra-Aksara)
Pada masa pendidikan ini belum mengenal adanya tulisan, adapun kebudayaan yang berkembang pada penduduk asli disebut Paleolitis (kebudayaan lama/tua), sedangkan kebudayaan moyang bangsa Indonesia disebut neolitis (kebudayaan baru) yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tata masyarakatnya bersifat egaliter, tidak ada stratifikasi yang jelas. Masyarakatnya dipimpin oleh pemuka adat.
Tujuan pendidikan saat itu adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri dan hidup bermasyarakat. Belum ada pendidikan formal, maka kurikulum pendidikannya meliputi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan mengenai agama.

b.       Zaman Kerajaan Hindu-Budha
Stratifikasi sudah nampak jelas, antara yang dijamin(raja dan pegawai-pegawainya) dan yang menjamin (rakyat).  Berkembanglah feodalisme di dalam masyarakat dengan diketemukan tulisan tertua (tulisan huruf Palawa bahasa sansekerta) oleh para ilmuwan sejarah di dekat Bogor dan Kutai.
Pada jaman kerajaan Tarumanegara, Kutai telah berkembang pendidikan informal berbentuk Perguruan dan Pesantren. Sebagai pendidik ( guru dan pendhita) adalah kaum Brahmana yang kemudian guru menggantikan kedudukannya para Brahmana. Implikasi dari feodalisme pendidikan bersifat aristokratis artinya masih terbatas hanya untuk minoritas yaitu anak-anak kasta Brahmana dan Ksatria, belum menjangkau mayoritas dari anak-anak kasta Waisya dan Syudra.
Tujuan pendidikan umumnya agar menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup bermasyarakat, mampu membela diri, dan membela negara. Darmapala sangat terkenal sebagai guru Budha yang dimungkinkan candi Borobudur, candi mendut merupakan pusat-pusat pendidikan agama Budha yang menghasilkan karya sastra yang bermutu tinggi oleh para empu (pujangga) seperti : Kitab Pararaton (Empu Kanwa), Negara Kertagama ( Empu Sedah dan Empu Panuluh), Arjuna Wiwaha dan Barathayuda ( Empu Prapanca)


c.       Zaman Kerajaan Islam
Pada abad 14 melalui saudagar yang beragama Islam masuk dan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dengan jasa wali songo, akhirnya berdirilah kerajaan Islam. Pada umumnya tujuan pendidikan untuk menghasilakan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Pendidikan berlangsung dalam keluarga dan lambaga-lembaga pendidikan seperti langgar-langgar, masjid, dan pesantren.

d.      Zaman Pengaruh Portugis dan Spanyol
Bangsa Portugis dan bangsa Spanyol datang untuk berdagang dan sebagai missionaris (penyebar agama katholik). Mereka mendirikan sekolah yang kurikulumnya berisi pendidikan agama katholik ditambah mata pelajaran membaca, menulis dan berhitung.

e.        Zaman kolonial Belanda
Pada jaman kolonial Balanda karakteristik kondisi sosial budaya yaitu:
1)   Berlangsung penjajahan kolonialisme
2)   Monopoli hasil pertanian
3)   Stratifikasi sosial

Namun dengan semakin sadarnya bangsa Indonesia akan makna nasional dan kemerdekaan lahirlah berbagai pergerakan dalam jalur politik dan pendidikan. Kondisi pendidikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial belanda sesuai kepentingan penjajahan dan pendidikan yang dilaksanakan oleh kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan demi mencapai kemerdekaan. Ciri-ciri pendidikan zaman itu adalah minimnya partisipasi bagi rakyat hanya untuk bangsa belanda dan putera golongan priayi, pendidikan bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja murah atau pegawai rendahan.
Pendidikan kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan kemerdekaan, antara lain :
1)        Tahun 1908 Budi utomo menjelaskan bahwa tujuan perkumpulan adalah untuk kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa. Dalam bidang pendidikan mendirikan Sekolah Sentral di Solo dan Yogyakarta yaitu Kweekschool.
2)        Tahun 1912 K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah
3)        Tahun 1915 didirikan Trikora Dharmo, dan selanjutnya berdiri berbagai perkumpulan pemuda hingga terwujudnya sumpah pemuda 1928.
4)        Tahun 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Tamansiswa.
5)        Tahun 1926 Muhamad Safei mendirikan INS (Indonesisch Nederland School)
6)        Dll.
Dari sini pergerakan nasional melahirkan kesadaran mengenai pentingnya peranan pendidikan nasional dalam mempersiapkan kelahiran negara nasional. Ciri pendidikan nasional :
1)        Bersifat nasionalistik dan sangat anti kolonialis
2)        Berdiri sendiri atau percaya kepada kemampuan sendiri
3)        Pengakuan kepada eksistensi perguruan swasta sebagai perwujudan harga diri yang tinggi dan kebhinekaan masyarakat Indonesia.
     f. Zaman Kedudukan Jepang
Bangsa Indonesia berada pada kekuasaan pendudukan militerisme, implikasinya dalam bidang pendidikan di Indonesia sebagai berikut :
1)   Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya
2)   Hilangnya sistem dualisme dalam pendidikan. Terdapat jenjang sekolah : Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah, Sekolah Menengah Tinggi, dan Perguruan Tinggi.
3)   Sistem pendidikan menjadi lebih merakyat.
      g. Pendidikan Sesudah Kemerdekaan
a.        Kondisi Pendidikan Periode 1945 – 1969
1)        Zaman Revolusi Fisik Kemerdekaan
Jenjang pendidikan disempurnakan menjadi SMTP dan SMTA dan mulai mempersiapkan sistem pendidikan nasional sesuai dengan amanat UUD 1945. Menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengintruksikan agar membuang sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan patriotisme. Rancangan UU yang dihasilkan : UURI no. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah.
2)        Peletakan Dasar Pendidikan Nasional
Mulai tanggal 18 Agustus 1945, sejak PPKI menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi negara yang didalamnya memuat pancasila, implikasinya bahwa sejak saat itu dasar sistem pendidikan nasional kita adalah Pancasila dan UUD 1945.
3)        Demokrasi Pendidikan
Sesuai amanat UUD 1945 dan UURI No. 4 tahun 1950 pemerintah mengusahakan terselenggaranya pendidikan yang bersifat demokratis yaitu kewajiban belajar sekolah bagi anak-anak yang berumur 8 tahun.
4)        Lahirnya LPTK pada Tingkat Universiter
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan mendorong Prof. Moh. Yamin mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Atas dasar konferensi antar FKIP negeri seluruh Indonesia maka lembaga pendidikan tenaga guru ( PGSLP, Kursus BI, BII, dan PTPG) diintegrasikan dalam FKIP pada Universitas. Kemudian didirkan IKIP yang berdiri sendiri sebagai pindahan dari PTPG sesuai dengan UU PT No. 22 tahun 1961.
5)        Lahirnya Perguruan Tinggi
Pada tanggal 4 Desember 1961 lahir UU no. 22 tentang perguruan tinggi dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi.
1)        UU tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sebagai penjabaran Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional disahkan 8 Peraturan Pemerintah (PP) yaitu :
a)    PP No. 27/1990 tentang Pendidikan Prasekolah
b)   PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar
c)    PP No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah
d)   PP No. 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi (kemudian diganti PP No. 60/1999)
e)    PP No. 72/1991 tentang Pendidika Luar Biasa
f)    PP No. 73/1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah
g)   PP No. 38/1992 tentang Tenaga Kependidikan
h)   PP No. 39/1992 tentang Peran serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional.
2)        Taman Kanak-Kanak
3)        Pendidikan Dasar
4)        Pendidikan Menengah
5)        Pendidikan Tinggi
6)        Pendidikan Luar Sekolah

   h. Pendidikan sekarang (Era-Milenial)
Pada Era pendidikan ini lebih kepada system pendidikan berbasis digital yang menjadikan perkembangan teknologi dan komunikasi sebagai media pendidikan, dimaksudkan agar pendidikan yang ada mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada. Dalam hal ini bukan hanya gaya hidup yang dituntut untuk ikut serta dalam perkembangan zaman, namun pendidikan juga tidak kalah penting mengingat pendidikan merupakan dasar dari semua bidang dalam kehidupan, sehingga pendidikan dalam hal ini mempunyai pengaruh dan dampak penting dalam segala elemen kehidupan. Contoh media pembelajaran berbasis digital, yaitu E-learning. E-Learning merupakan model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung pemanfaatannya teknologi informasi dan komunikasi. Istilah E-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah tranformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet.
Pada bagian ruangan ini terdapat gambar patung sang penenu dibuat oleh orang asli flores yang berukuran tinggi 20 cm, namun, aslinya dimuseum Australia. Patung ini mewakili bentuk pendidikan yang ada ketika Era pra aksara, diajarkan secara turun temurun cara bercocok tanam, yang menlambangkan bahwa pendidikan di mulai dari lingkungan keluarga pendididkan didapat dr lingkungan terkecil yaitu keluarga, patung sang penenun selain memaknai sebagai seorang ibu juga seorang penenun hasil pra sejarah di perkirakan oleh seorang laki-laki
Jaman klasik mengenal media sekolah padepokan muridnya namanya cangkrik, adapun ilmu yang diajarkan yaitu berkaitan dengan ilmu panuragan atau bela diri, agama. Setelah Islam masuk sebutan padepokan menjadi pesantren adapun siswanya namanya santri. Adapun Pembelajarannya sudah kenal tulis menulis, menggunakan daun lontar atau palem yang diman proses pembuatannya berbulan-bulan dengan alat tulisnya menggunakan pisau yang nantinya akan berbekas celah-celah dan akan hitam dengan minyak kemiri, kebanyakan berkembang pada kebudayaan masyarakat bali, yang berkembang samapai kerajaan islam.
Selanjutnya menuju ke lantai dua pengunjung tidak begitu banyak melihat koleksi. Di lantai dua ini yang ada adalah ruangan Cinema yang memiliki 116 tempat duduk serta sebuah ruangan yang masih dalam proses penyediaan fasilitas. Kami disuguhi pemutaran film tentang pendidikan pada masa lampau, yang masih sangat menghargai gurunya, yang masih berkarakter murni selakyaknya sebagai seorang murid yang senantiasa patuh dan hormat kepada gurunya. Dalam film ini juga menampilkan betapa sederhananya fasilitas dan peralatan sekolah yang mereka gunakan. Mereka menggunakan Tablet kuno atau sabak sebagai media mencatat materi pelajaran, dan grip sebagai media tulisnya. Adapun sistem pembelajarannya tulis materi, hafalkan, lanagsung hapus. Terkadang seorang siswa yang mendapatkan nilai bagus cara memberikan bukti kepada orang tuanya yaitu dengan menempelkannya di pipi mereka.


Lampiran
Foto-foto di MPI UNY
Foto-Foto Rektor yang menjabat di UNY


Makalah Motivasi Belajar (Tugas Psikologi Pendidikan)


MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN
MOTIVASI BELAJAR


Logo_uny.gif


Dosen Pembimbing     :
Nur Cholimah S.Pd., M.Pd.

Pemakalah       :
1.      Entina Nesti Kusairoh                   (19302241008)
2.      Zulfa Lutfi Anisa                          (19302241013)
3.      Narita Relly Millen                       (19302241024)
4.      Naufal Rafiif Nafiyanto               (19302241050)
5.      Afini Vinnahari Nuryaman           (19302241024)


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020







Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikanmakalah sebagai tugas psikologi pendidikan dengan judul “Motivasi Belajar”
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Nur Cholimah S.Pd., M.Pd. yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah kami. Tanpa bantuan beliau makalah ini tidak mungkin dapat dibaca oleh pembaca sekalian. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.


Yogyakarta, 28 Februari 2020

Penyusun




Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan peserta didik setelah melaksanakan pengalaman belajar. Tercapai tidaknya tujuan pengajaran salah satunya adalah terlihat dari prestasi belajar yang diraih peserta didik. Dengan prestasi yang tinggi, para peserta didik mempunyai indikasi berpengetahuan yang baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi peserta didik adalah motivasi. Dengan adanya motivasi, peserta didik akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan memiliki konsentrasi penuh dalam proses pembelajaran. Dorongan motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu dibangkitkan dalam upaya pembelajaran di sekolah.
Penelitian Wasty Soemanto (2003) menyebutkan, pengenalan seseorang terhadap prestasi belajarnya adalah penting karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai maka peserta didik akan lebih berusaha meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan demikian peningkatan prestasi belajar dapat lebih optimal karena peserta didik tersebut merasa termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar yang telah diraih sebelumnya. Biggs dan Tefler mengungkapkan motivasi belajar peserta didik dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan, sehingga mutu prestasi belajar akan rendah. Oleh karena itu, mutu prestasi belajar pada peserta didik perlu diperkuat terus-menerus. Dengan tujuan agar peserta didik memiliki motivasi belajar yang kuat, sehingga prestasi belajar yang diraihnya dapat optimal.
Motivasi belajar yang dimiliki peserta didik dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar memungkinkan akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula, artinya semakin tinggi motivasinya, semakin intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka semakin tinggi prestasi belajar yang diperolehnya. Oleh karena itu, dalam proses pengajaran sangat diperlukan adanya motivasi. Hal inilah yang melatarbelakangi disusunnya makalah mengenai “Motivasi Belajar” ini.
1.      Apa yang dimaksud dengan Motivasi Belajar?
2.      Apa saja jenis-jenis Motivasi Belajar?
3.      Apa saja faktor-faktor yang memepengaruhi Motivasi Belajar?
4.      Apa saja teori-teori Motivasi Belajar?
5.      Bagaimana Motivasi Belajar menurut konsep islam?
6.      Bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik?

1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan motivasi belajar.
2.      Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis motivasi belajar.
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar.
4.      Untuk mengetahui apa saja teori-teori motivasi belajar.
5.      Untuk mengetahui motivasi belajar menurut konsep islam.
6.      Untuk mengetahui upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik.


Motivasi diartikan sebagai suatu hal yang dapat menimbulkan perilaku tertentu dan memberi arah serta ketahanan pada tingkah laku tersebut. Motivasi adalah keadaan internal yang mendorong, mengatur, dan menjaga perilaku. Hal ini melibatkan seseorang dan dorongan untuk belajar, bekerja secara efektif, dan mencapai potensi mereka di lembaga Pendidikan, serta perilaku yang mengkuti dorongan untuk belajar. Motivasi merupakan usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar orang tersebut terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi belajar adalah usaha seseorang untuk melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat atau keinginan untuk mencapai prestasi, cita-cita, atau tujuan hasil belajar sebaik mungkin. Seseorang termotivasi belajar karena pengaruh dari manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh. Motivasi belajar yang tinggi berdasarkan ketekunan untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan. Hal ini ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam menyelesaikan suatu tugas. Motivasi yang tinggi dapat meninggkatkan aktivitas belajar peserta didik.
Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis seseorang untuk berusaha belajar secara sungguh-sungguh, kemudian akan terbentuk cara belajar seseorang yang sistematis, efektif, penuh konsentrasi, dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Secara umum motivasi belajar dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Motivasi Intrinsik
            Menurut Singgih (2008 : 50), motivasi intrinsik merupakan dorongan yang kuat berasal dari dalam diri seseorang. Sedangkan John W Santrock (2003 : 476) mengatakan motivasi intrinsik adalah keinginan dari dalam diri seseorang untuk menjadi konpeten, dan melakukan sesuatu demi usaha itu sendiri. Thursan (2008 : 28) mengemukakan motif intrinsik adalah motif yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan.
            Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan motivasi intrinsik adalah motivasi yang kuat berasal dari dalam diri individu tanpa adanya pengaruh dari luar yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Semakin kuat motivasi intrinsik yang dimiliki, semakin memperlihatkan tingkah laku yang kuat untuk mencapai tujuan (Singgih, 2008 : 50). Menurut Sri Hapsari (2005 : 74) motivasi Intrinsik pada umumnya terkait dengan bakat dan faktor intelegensi dalam diri siswa. Motivasi intrinsik dapat muncul sebagai suatu karakter yang telah ada sejak seseorang dilahirkan, sehingga motifasi tersebut merupakan bagian dari sifat yang didorong oleh faktor endogen, faktor dunia dalam, dan sesuatu bawaan (Singgih, 2008 : 50), 14 Menurut Thursam (2008 : 29), seorang siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan aktif belajar sendiri tanpa disuruh guru maupun orang tua.
            Faktor-faktor yangmempengaruhi motivasi intrinsik antara lain :
1) keinginan diri
2) kepuasan
3) kebiasaan baik
4) kesadaran

2.      Motivasi Ekstrinsik
            Menurut Supandi (2011 : 61), motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul manakala terdapat rangsangan dari luar individu. Menurut Thomas (2010 : 39) motivasi ekstrinsikadalah motivasi penggerak atau pendorong dari luar yang diberikan dari ketidak mampuan individu sendiri. Menurut Jhon W Santrock (2003 : 476) berpendapat, motivasi ekstrinsik adalah keinginan mencapai sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan tujuan eksternal atau mendapat hukuman eksternal. John W Santrock (2003 : 476), motivasi ekstrinsik adalah keinginan untuk mencapai sesuatu didorong karena ingin mendapatkan penghargaan eksternal atau menghindari hukuman eksternal. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan untuk berprestasi yang diberikan oleh orang lain seperti semangat, pujian dan nasehat guru, orang tua, dan orang lain yang dicintai.
            Dari berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi ektrinsik dipengaruhi atau dirangsang dari luar individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ekstrinsik antara lain:
1) pujian
2) nasehat
3) semangat
4) hadiah
5) hukuman
6) meniru sesuatu

Jenis motivasi dapat dilihat berdasarkan berbagai sudut pandang. Beberapa jenis motivasi antara lain :
a.       Jenis motivasi menurut Biggs dan Telfer (dalam Dimyati dkk, 1994)tersebut dapat dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu :
1.      Motivasi instrumental
Motivasi instrumental artinyaseseorang belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman.
2.      Motivasi sosial
Motivasi sosial artinya seseorang belajar untuk menyelesaikan tugas, dalam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol.
3.      Motivasi berprestasi
Motivasi berprestasi artinya seseorang belajar untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang telah ditetapkannya.
4.      Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik artinya seseorang belajar karena keinginannya sendiri, tumbuh dari diri sendiri.

b.      Jenis motivasi berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi tiga macam, antara lain :
1.      Motivasi takut (fear motivation)
Motivasi seseorang untuk melakukan suatu hal berdasarkan perasaan takut. Seseorang melakukan kejahatan karena takut akan ancaman dari orang lain yang suka melakukan kejahatan. Seseorang mematuhi peraturan lalu lintas bukan karena sadar akan kewajibannya, tetapi karena takut mendapat ancaman.
2.      Motivasi insentif (incentive motivation)
Motivasi seseorang untuk melakukan perbuatan untuk mendapatkan sesuatu intensif. Bentuk-bentuk intensif antara lain: honor, bonus, hadiah, penghargaan, piagam, gaji, kenaikan pangkat, promosi jabatan.
3.      Sikap atau attitude motivation (self motivation)
Motivasi seseorang untuk melakukan suatu hal muncul dari dalam dirinya sendiri. Berbeda dengan motivasi sebelumnya yang datang dari luar diri sendiri. Sikap merupakan suatu motivasi yang menunjukan ketertarikan atau ketidaktarikan seseorang akan suatu hal. Motivasi ini timbul dari diri sendiri karena adanya rasa senang atau suka akan suatu hal.

c.       Jenis motivasi berdasarkan dasar pembentukannya dibedakan menjadi dua macam, antara lain :
1.      Motivasi bawaan
Motivasi yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi ini tanpa dipelajari.
2.      Motivasi yang dipelajari
Motivasi yang timbul karena dipelajari.

d.      Jenis motivasi menurut Abraham Maslow yang mendorong perbuatan seseorang dapat dibedakan menjadi 5 golongan, yaitu:
1.      Motivasi fisiologi
Dorongan seseorang untuk memenuhi kebutuhan jasmani, seperti kebutuhan makan, minum, bernafas, bergerak, dan kebutuhan lainnya.
2.      Motivasi pengamanan
Dorongan untuk menjaga atau melindungi diri dari gangguan, baik gangguan alam, hewan, iklim, maupun manusia.
3.      Motivasi persaudaraan dan kasih saying
Dorongan untuk membina hubungan baik, kasih sayang, atau persaudaraan.
4.      Motivasi harga diri
Motivasi untuk mendapatkan pengenalan, pengakuan, penghargaan, dan penghormatan dari orang lain. Manusia merupakan makhluk sosial yang melakukan interaksi dengan orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari orang lain.
5.      Motivasi aktualisasi diri
Manusia memiliki potensi diri yang dibawa dari kelahirannya dan kodratnya sebagai manusia. Potensi dan kodrat ini perlu diaktualisasikan atau dinyatakan dalam berbagai bentuk sifat, kemampuan, dan kecakapan nyata. Melalui berbagai upaya untuk belajar manusia berusaha mengaktualkan semua potensi miliknya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motivasi belajar, antara lain lingkungan budaya, keluarga, sekolah dan seseorang itu sendiri. Motivasi belajar bisa muncul karena ambisi orang tua atau sistem peringkat di sekolah. Memaksa peserta didik menerima beban melebihi kemampuannya tentu saja membuat peserta didik tidak berkembang secara sehat. Keinginan menciptakan peserta didik baik dan hebat justru bisa menghasilkan peserta didik yang bermasalah.
Motivasi belajar berfungsi menimbulkan, mendasari, dan menggerakan perbuatan untuk belajar. Berdasarkan penelitian melalui observasi langsung, kebanyakan peserta didik yang motivasinya tinggi akan berusaha tekun, tampak gagah, tidak menyerah, dan tekun membaca untuk meningkatkan hasil belajar serta memecahkan permasalahannya. Sebaliknya peserta didik yang motivasinya rendah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pembelajaran, akibatnya peserta didik akan mengalami kesulitan belajar. Motivasi mendorong seseorang, mengarahkan perbuatan serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupannya.
Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain :
1.      Cita-cita atau aspirasi peserta didik
Motivasi belajar tampak pada keinginan peserta didik sejak kecil. Keberhasilan mencapai keinginannya tersebut menumbuhkan kemauan mewujudkan cita-cita hidupnya. Tumbuhnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan, serta kepribadiannya.
2.      Kemampuan siswa
Keinginan peserta didik tentu disesuaikan dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
3.      Kondisi peserta didik
Kondisi peserta didik meliputi jasmani dan rohani yang dapat mempengaruhi motivasi belajar. Rasa sakit, lapar, marah-marah, sehat, kenyang, atau gembira akan mempengaruhi motivasi belajar.
4.      Kondisi lingkungan siswa
Keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan teman, dan kehidupan kemasyarakatan dapat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman teman yang nakal, perkelahian antar peserta didik dapat mengganggu kesungguhan belajar peserta didik. Oleh karena itu kondisi lingkungan yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar peserta didik.
5.      Unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Perasaan, perhatian, kemauan, dan pikiran peserta didik dapat mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Lingkungan budaya peserta didik berupa surat kabar, majallah, radio, televisi, dan film mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Oleh karena itu, tenaga pendidik diharapkan mampu memanfaatkan semua itu untuk mewujudkan kondisi dinamis yang baik bagi pembelajaran dan untuk motivasi belajar.
6.      Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru adalah tenaga pendidik yang professional yang berpengaruh pada perkembangan belajar peserta didik. Sebagai pendidik yang professional seharusnya dapat memilih dan memilah hal yang baik dan buruk. Partisipasi dan teladan perilaku yang baik adalah salah satu upaya membelajarkan peserta didik. Upaya pembelajaran dapat terjadi di luar sekolah maupun di dalam sekolah. Upaya pendidikan luar sekolah yang penting adalah keluarga, Lembaga agama, pramuka, dan pusat Pendidikan pemuda lainnya. Guru professional diharuskan dapat menjalin kerja sama yang baik dengan pihak-pihak lain tersebut.



Menurut pendapat Malcom Brownlee, faktor-faktor mempengaruhi motivasi belajar adalah:
1.      Faktor Guru
Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup “tahu” sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki “kepribadian guru” dengan segala ciri tingkat kedewasaannya dan memiliki kepribadian. Untuk itu perlu dikemukakan dalam pembahasan ini sepuluh kompetensi guru yang berkaitan erat dengan tugasnya membentuk motivasi belajar siswa di sekolah antara lain :
(1) menguasai bahan atau materi pengajaran,
(2) mengelola program belajar mengajar,
(3) Pengelolaan kelas
(4) menggunakan Media dan sumber belajar
(5) menguasai landasan-landasan kependidikan
(6) mengelola interaksi belajar-mengajar
(7) menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
(8) mengenal fungsi dan program bimbingan & penyuluhan
(9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
(10) mengenal prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna kepentingan pengajaran
2.      Faktor Orangtua
Faktor orangtua dalam keluarga sangat menentukan juga karena mereka adalah mitra para guru dalam bekerja bersama-sama untuk tujuan tersebut. Orangtua tidak cukup puas hanya menyerahkan urusan dan tanggung jawab ini pada guru.


3.      Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat tempat berdomisili siswa menjadi unsur yang turut dipetimbangkan dalam proses pembentukan motivasi siswa, karena siswa juga adalah bagian ataupun warga dari suatu masyarakat. Malcom Brownlee mengemukakan konsep yang memperlihatkan ketergantungan ini dengan mengemukakan “Manusia dalam masyarakat dan masyarakat dalam manusia.” Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsep manusia dalam masyarakat mengisyaratkan ketergantungan bahwa individu sebagai bagian dalam komunitas yang memiliki sistem nilai sosial yang saling mengikat dan mempengaruhi setiap individu yang hidup bersama dalam sebuah komunitas, baik komunitas masyarakat kota ataupun masyarakat desa dan atau kelompok belajar seperti siswa pada suatu sekolah.
Morgan,dkk (1986) mengemukakanempatteorimotivasiyaitu :
1.      Teori Drive
Teori ini digambarkan sebagai teori dorangan motivasi, Menurut teori ini perilaku “didorong” kearah tujuan dengan kondisi drive (tergerak) dalam diri manusia atau hewan. Menurut teori ini motivasi terdiri dari :
a.       Kondisi bergerak
b.      Perilaku diarahkan ketujuan yang diawali dengan kondisi tergerak
c.       Pencapaian tujuan secara cepat
d.      Reduksi kondisi tergerak dan kepuasan subjektif dan kelegaan tatkala tujuan tercapai.
2.      Teori Insentif
Berbeda dengan teori drive, teori ini digambarkan sebagai teori pull (tarikan). Menurut teori ini, objek tujuan menarik perilaku kearah mereka. Objek tujuan yang memotivasi perilaku dikenal sebagai insentif. Bagian terpenting teori intensif adalah individu mengharapkan kesenangan dari pencapain dariapada yang disebut intensif positif dan menghindari apa yang disebut sebagai intensif negatif.
3.      Teori Opponment-process
Teori ini mengambil pandangan hedonistic tentang motivasi, yang memandang bahwa manusia dimotivasi untuk mencari tujuan yang memberi perasaan emosi senang dan menghindari tujuan  yang dihasilkan ketidak senangan.

4.      Teori Optimal-level
Menurut teori ini individu dimotivasi untuk berperilaku dengan cara tertentu untuk menjaga level optimal pembangkitan yang menyenangkan.
Elliot, dkk(1996) mengemukan empat teori motivasi yang saat ini banyak dianut yaitu:
1.      Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Menurut teori ini, orang termotivasi terhadap suatu perilaku karena ia memperoleh pemuasan kebutuhannya. Ada lima tipe dasar kebutuhan dalam teori Maslow yaitu :
a.       Kebutuhan fisiologis,
b.      Kebutuhan akan rasa aman,
c.       Kebutuhan akan cinta dan memiliki,
d.      Kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.

2.      Teori Kognitif Brunner
Kunci untuk membangkitkan motivasi bagi Brunner adalah discovery learning. Siswa dapat melihat makna pengetahuan, keterampilan dan sikap bila mereka menemukan semua itu sendiri.

3.      Teori Kebutuhan Prestasi
Mc Clelland (dalam Elliot,1996)   menyatakan bahwa individu yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi adalah mereka yang berupaya mencari tantangan, tugas-tugas yang cukup sulit, dan ia mampu melakukannya dengan baik, mengharapkan umpan balik yang mungking, serta ia juga mudah merasa bosan dengan keberhasilan yang terus menerus.

4.      Teori Atribusi
Teori ini bersandar pada tugas asumsi dasar (Petri, dalam Elliot, dkk, 1996).
a.       Pertama, orang ingin tahu penyebab perilakunya dan perilaku orang lain.
b.      Kedua, mereka tidak menetapkan penyebab perilaku mereka secara random. Ada penjelasan logis tentang penyebab perilaku yang berhubungan dengan perilaku.
c.       Ketiga, penyebab perilaku yang ditetapkan individu mempengaruhi perilaku berikutnya.
Jadi, menurut teori yang dikemukakan oleh Elliot,dkk perilaku seseorang ditentukan bagiamana kontribusinya terhadap penyebab perilaku yang sama sebelumnya.
Menurut Makin dan Mudzakir (2002), berbagai bentuk motivasi yang dikemukakan oleh para psikolog hanya bersifat duniawi dan berjangka pendek, juga tidak menyentuh aspek-aspek spiritual dan ilmiah. Dalam islam motivasi diakui berperan penting dalam belajar. Sebab seseorang bila mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu dan didukung oleh kondisi yang ada, maka ia akan mencurahkan segenap upaya yang diperlukan untuk mempelajari metode-metode yang tepat guna mencapai tujuan tertentu, apabila ia menghadapi suatu masalah dan merasa sangat perlu untuk memecahkannya maka biasanya ia akan melakukan berbagai upaya untuk itu sehingga menemukan solusi yang tepat (Najati, 2003). Teknik-teknik motivasi dalam Al-Quran mencakup tiga bentuk (Najati,2003) yaitu:
1.      Janji dan Acaman. Al-Quran menjanjikan pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang beriman dalam surga dan ancaman yang akan menimpa orang-orang kafir dalam neraka. Janji dan ancaman ini menimbulkan harapan dan rasa takut yang merupakan jaminan bagi tumbuhnya dorongan yang kuat bagi diri kaum muslim untuk melakukan amal yang baik selama hidup didunia termasuk belajar.
2.      Kisah yaitu menyajikan berbagai peristiwa, kejadian dan pribadi yang dapat menarik perhatian dan menimbulkan daya tarik bagi pendengarnya untuk mengikutinya dan membangkitkan berbagai kesan dan perasaan yang membuat mereka terlibat secara psikis serta terpengaruh secara emosional.
3.      Pemanfaatan peristiwa penting yaitu menggunakan beberapa peristiwa atau persoalan penting yang terjadi yang bisa menggerakan emosi, menggugah perhatian dan menyibukkan pikiran. Al-Quran menggunakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum muslimin sebagai suri teladan yang berguna dalam kehidupan mereka hal itu membuat mereka lebih siap dan lebih menerima untuk mempelajari dan menguasai keteladan tersebut.

Motivasi mendasari semua perilaku individu, bedanya pada sesuatu perilaku mungkin dirasakan dan disadari pada perilaku lain tidak, pada sesuatu perilaku sangat kuat dan pada perilaku lain kurang. Bagi seorang guru atau pendidik peranan motivasi ini penting sekali. Mendidik atau mengajar merupakan pekerjaan yang rumit dan kompleks. Kompleks karena banyak hal yang harus difahami, dipersiapkan dan dilakukan. Rumit karena subjek didik adalah manusia yang serba misterius. Mendidik dan mengajar memerlukan kesabaran, ketekunan, ketelitian, tetapi juga kelincahan dan kreativitas. Semuanya itu membutuhkan adanya motivasi mendidik dan mengajar yang cukup tinggi dari guru atau pendidik, agar ia tidak lekas bosan, dan putus asa.
Demikian juga halnya dengan proses belajar yang dijalani siswa. Belajar merupakan proses yang panjang, ditempuh selama bertahun-tahun. Belajar membutuhkan motivasi yang secara konstan tetap tinggi dari para siswanya. Agar para siswa memiliki motivasi yang tinggi, beberapa usaha perlu dilakukan oleh guru untuk membangkitkan motivasi ini. Beberapa usaha yang dapat lakukan oleh guru, di antaranya adalah:
1.      Menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan.
Tujuan yang jelas dan manfaat yang betul-betul dirasakan oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar.
2.      Memilih materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa.
Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik minat siswa, dan minat merupakan salah satu bentuk motivasi.
3.      Memilih cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan berpartisipasi.
Banyak berbuat dalam belajar bagaimana pun juga akan lebih membangkitkan semangat dibandingkan dengan hanya mendengarkan. Oleh karena itu guru perlu menciptakan berbagai kegiatansiswa di dalam kelas.
4.      Memberikan sasaran dan kegiatan-kegiatan antara.
Sasaran akhir dari kegiatan belajar siswa adalah lulus dari ujian akhir. Menempuh ujian akhir ini, bagi siswa yang baru masuk merupakan kegiatan yang masih terlalu lama, oleh karena itu perlu diciptakan sasaran dan kegiatan antara seperti ujian se­mester. Ujian semester pun masih terlalu jauh sebab akan dilakukan empat atau lima bulan kemudian. Untuk itu diperlukan kegiatan-kegiatan yang lebih dekat, umpamanya ujian bulanan, mingguan dsb. Hal itu dilakukan sesuai dengan salah satu prinsip motivasi, bahwa semakin dekat kepada sasaran atau tujuan maka akan semakin terrmotivasi. Supaya motivasi ini besar maka tujuan atau sasaran-sasaran tersebut harus didekatkan.
5.      Berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses.
Sukses yang dicapai oleh siswa akan membangkitkan motivasi belajar, dan sebaliknya kegagalan yang beruntun dapat menghilangkan motivasi. Berikanlah tugas, latihan dsb. yang kira-kira dapat dikerjakan dengan baik oleh siswa, agar siswa memperoleh siswa sukses. Apabila di kelas ada siswa yang kemampuannya kurang, berikanlah tugas yang lebih sederhana atau lebih mudah, supaya diapun memperoleh sukses.
6.      Berikanlah kemudahan dan bantuan dalam belajar.
Tugas guru atau pendidik di sekolah adalah membantu perkembangan siswa. Agar perkembangan siswa lancar, berikanlah kemudahan- kemudahan dalam belajar, dan jangan sebaliknya guru mempersulit perkembangan belajar yang dialami siswa. Apabila siswa mengalami kesulitan atau hambtan dalam belajar, berikanlah bantuan, baik langsung oleh guru, maupun memberi petunjuk kepada siapa atau kemana meminta bantuan.
7.      Berikanlah pujian, ganjaran atau hadiah.
Untuk membangkitkan motivasi belajar secara sederhana guru dapat melakukannya melalui pemberian pujian. Pujian akan membangkitkan semangat, tetapi sebaliknya kritik, cacian, dan kemarahan akan membunuh motivasi belajar. Apabila keadaan memungkinkan untuk sukses-sukses tertentu, seperti siswa yang mengerjakan tugas dengan baik, mendapatkan nilai terbaik dsb., dapat diberi ganjaran atau hadiah.
8.      Penghargaan terhadap pribadi anak.
Bagaimana pun ampuhnya ketujuh upaya pembangkitan motif di atas, perlu dilandasi oleh sikap dan penerimaan yang wajar dari guru terhadap keberadaan dan pribadi siswa. Motif keempat dari Maslow adalah motif harga diri(self esteem). Harga diri ini bukan hanya dimiliki oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sikap menerima siswa sebagaimana adanya, menghargai pribadi siswa, memberi kesempatan kepada siswa mencobakan jalan pikirannya sendiri.
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (dalam Prasetya, 1997) menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam proses belajar mengajar yang disebut sebagai model ARCS. Dalam model tersebut ada 4 kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan guru agar proses pembelajaran yang dilakukannya menarik, bermakna, dan memberi tantangan pada siswa. Keempat kondisi tersebut adalah:
1.      Attention (Perhatian)
Perhatian siswa muncul didoroong rasa ingin tahu. Oleh karena itu rasa ingin thau ini perlu mendapat rangsangan sehingga siswa selalu memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan. Agar siswa berminat dan memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan guru dapat menyampaikan materi dan metode secara bervariasi, senantiasa mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, dan banyak menggunnakan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari untuk memperjelas konsep.

2.      Relevance (Relevansi)
Relevansi menunjukkan adanya hubungan antera materi pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara apabila siswa menganggap apa yang dipelajari memnuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.

3.      Confidence (Kepercayaan diri)
Merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi unruk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Bandura (1977) mengembangkan konsep tersebut dengan mengajukan konsep self efficacy. Konsep tersebut berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Self efficacy tinggi akan semakin mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar tekun dalam mencapai prestasi belajar maksimal. Agar kepercayaan diri siswa meningkat guru perlu memperbanyak pengalaman berhasil siswa misalnya dengan menyusun aktivitas pembelajaran sehingga mudah dipahami, menyusun kegiatan pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menyatakan persyaratan untuk berhasil, dan memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses pembelajaran.

4.      Satisfaction (Kepuasan)
Keberhasialan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan semakin termotivasi untuk mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan dalam penapaian tujuan dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat member penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan dan sebagainya.








Kesimpulan dari makalah diatas adalah
1.      Motivasi belajar adalah suatu dorongan atau daya penggerak dari dalam diri individu yang memberikan arah dan semangat pada kegiatan belajar, sehingga dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.
2.      Sebagai kekuatan mental, motivasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang tertentu, yaitu jenismotivasi menurut Biggs dan Telfer, jenis motivasi berdasarkan sifatnya, jenis motivasi berdasarkan dasar pembentuknya, dan jenis motivasi menurut Abraham Maslow
3.      Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri peserta didik maupun dari luar atau lingkungannya.
4.      Terdapat beberapa teori mengenai motivasi belajar menurut beberapa ahli diantaranya Morgan,dkk dan menurut Elliot,dkk, adapun semua teori yang dikemukakan mengacu pada dasar motivasi belajar terbentuk.
5.      Motivasi belajar menurut konsep islam yaitu motivasi diakui berperan penting dalam belajar. Sebab seseorang bila mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu dan didukung oleh kondisi yang ada, maka ia akan mencurahkan segenap upaya yang diperlukan untuk mempelajari metode-metode yang tepat guna mencapai tujuan tertentu.
6.      Dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi belajar, diantaranya dengan menjelaskan manfaat dan tujuan dari pelajaran yang diberikan, memilih materi atau bahan pelajaran yang betul-betul dibutuhkan oleh siswa, berikan kesempatan kepada siswa untuk sukses, dan lain sebagainya. Maupun dengan model ARCS yaitu dengan memperhatikan kondisi motivasional dalam proses pembelajaran.

 

 

DAFTARPUSTAKA

 

Sugihartono, dkk.2013. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Nurjan, Syarifan.2015.Psikologi Belajar. Ponorogo: Wade Group.
Khodijah.2014.Psikologi Pendidikan.Jakarta:RajaGrafindo Persada
Samosir, Marianto.Psikologi Pendidikan:teori dan praktek.2009.Jakarta