TUGAS ILMU PENDIDKAN
LAPORAN OBSERVASI MUSEUM PENDIDIKAN
INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Laporan ini disusun untuk Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah Ilmu Pendidikan
(MDK 6201)

Dosen Pembimbing
Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd.,
M.Pd.
Disusun Oleh :
Zulfa Lutfi Anisa
19302241013
Kelas
Pendidikan
Fisika A
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
Museum
Pendidikan Indonesia (Yogyakarta)
Senin 28 Oktober 2019 saya dan teman
sekelas mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di kampus kita tepatnya di UNY
(Universitas Negeri Yogyakarta). Kunjungan ini dilakukan guna memenuhi tugas
dari Ibu Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd.,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Ilmu Pendidikan di kelas saya. Beliau telah membuat kesepakatan dengan kami
kelas Pendidikan Fisika A tentang tugas untuk dimasukkan sebagai nilai UTS,
kemarin beliau memberikan beberapa pilihan untuk tempat yang kita kunjungi.
Sehingga dilakukan voting atau pengambilan suara terbanyak untuk mentukan tepat
yang akan kami kunjungi. Ibu Evi memberikan pilihan antara kunjungan ke museum
Pendidikan di UNY atau museum Taman Siswa yang letaknya diluar area UNY. Karena
mengingat setelah mata kuliah Ilmu Pendidikan ada matakuliah lain sehingga
tidak memungkinkan untuk keluar area kampus yang jaraknya lumayan memakan waktu
sedangkan jeda pergantian matakuliah berikutnya hanya sepuluh menit, sehingga
kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di UNY.
Setelah semuanya setuju giliran Ibu Evi menentukan penugasan
yang harus dikumpulkan, yaitu kami diwajibkan setiap anak harus mengumpulkan paper
yang isinya berkaitan dengan peristiwa atau segala sesuatu yang kami alami atau
yang ada saat mengunjungi museum. Dengan semangatnya kami sekelas
menyetujuinya.
Saya memulai hari saya dengan bangun tidur, senin kali
ini berbeda dari senin-senin yang sudah saya jalani selama laporan praktikum
fisika dasar menghampiri hidup saya, ini karena laporan praktikum yang biasanya
saya kerjakan semalaman, namun kali ini laporan saya sudah selesai meskipun
dibalik keberuntungan saya ini ada kejadian yang sangat menguras kesabaran
saya, namun karena pada awal saya masuk UNY mempunyai visi yang mengharuskan
saya untuk lebih bisa berorientasi kedepan, dimana pada jurusan yang saya ambil
ini mengharuskan saya untuk mempunyai dan dapat mengembangkan kesabaran saya
selaku calon pendidik. Kejadian yang pada awalnya membuat saya terbang melayang
seketika dijatuhkan begitu saja, sakit emang tetapi ini semua juga sudah ada
yang mengatur, jai ceritanya saya diajak kakak saya untuk nonton tetapi karena
masih ada tanggungan kerja yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga kakak saya
membatalkannya secara sepihak. Seketika saya sedih, murung, menyesal sudah
mengorbankan waktu rebahan saya. Namun sungguh luar biasa takdir Allah itu,
dibalik semuanya saya menjadi bisa menyelesaikan laporan praktikum saya tanpa
terburu-buru dan kalaupun ingin saya koreksi masih punya banyak waktu, dan saya
sangat bersyukur kareana nilai laporan praktikum saya yang pada percobaan kali
ini tertinggi dari nilai-nilai laporan praktikum saya sebelumnya. Lewat
kejadian ini saya jadi tahu bahwa tidak semua kekecewaan membawa keburukan,
jika kita pandai dalam memaknai sebuah peristiwa pasti akan ada hal yang akan
membuat kita bersyukur akan semuanya.
Berhubung laporan praktikum saya sudah selesai, senin ini
saya berangkat kekampus lebih awal dari biasanya, sehingga jalanan masih
terbilang belum ramai apalagi macet, karena sabtu, minggu saya tidak ada kelas
karena hari libur saya pulang ke Bantul dan tidak tidur di kosan saya, sehingga
sepagi apaun saya berangkat dari rumah tetap saja sesampainya di kampus tetap
mepet dengan jam kelas. Namun satu hal yang menolak saya untuk lupa yaitu
ketika diparkiran saya bertemu dengan sesorang yang sudah banyak menginspirasi
saya, meskipun dia belum mengenal saya tetapi yang terpenting saya masih
diberikan kesempatan untuk selalu melihat dan mendengar segala nasihat juga
motivasi yang dia sampaikan,yang itu sangat membaut saya lebih mengerti tentang
hidup.
Satu
setengah jam saya mengarungi lautan kendaraan, yang ini sangat menguji
kesabaran saya, karena berbagai macam tujuan yang berbeda, gaya mengendarai
motor yang beda, pemahaman tentang berkendara yang berbeda, pokokny serba beda
semua jadi satu dalam arus dan lintasan yang sama, namun kali ini tidak separah
dengan hari-hari saya yang sudah lalu, karena beruntungnya saya berangkat lebih
pagi dari hari-hari kemarin. Sesampainya diparkiran saya melihat beberapa
mahasiswa memakai almamater yang dimana saya mengetahui sebab mereka memakai
almamater, yang tak lain dan tak bukan yaitu untuk mengikuti upacara bendera
memperingati hari sumpah pemuda. Adapun seluruh calon maupun yang sudah resmi
sebagai mahasiswa penerima bidikmisi diwajibkan untuk menghadirinya. Sehingga
saya sangat merasa kurang nyaman dengan saya saat itu karena terpaksa saya
harus ijin guna mengikuti UTS yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
upacara bendera.
Disamping
itu saya juga sudah harus menyalin hasil praktikum Analisis Rangkaian Listrik
di buku kelompok, yang nantinya setelah matakuliah Ilmu Pendidikan usai kita
lanjut praktikum bab selanjutnya. Setelah saya mengumpulkan laporan praktikum
saya di depan pintu laboratorium fisika dasar, saya lanjut menyelesaikan
kegiatan menyalin saya tadi, sambil menunggu teman-teman saya yang masih
menyelesaikan laporan praktikum mereka, untung-untung cari teman ketika ke
musiumnya nanti. Karena bolpoint saya tintanya habis terpaksa saya meminjam bolpoint
kepada teman saya, dan ternyata bolpoint kita senasib bedanya punya temen saya
masih ada sisa-sisanya jadi masih mendingan daripada punya saya. Setelah itu
saya dan teman saya menuju museum bersama-sama, sepanjang perjalanan saya
bersama teman saya berbincang masalah penugasan ini yang dimana kami
membicarakan bagaimana caranya agar cerita kita nanti bisa panjang dan banyak,
sehingga saya mencoba membuat adegan yang membuat teman saya terkejut, saya
yang awalnya hanya berniat bercanda namun jadi bahan seriusan bagi teman-teman
saya. Saya sengaja mendorong teman saya kejalan ketika kita bersamaan jalan di
trotoar, namun dari arah belakang ternyata ada mobil yang melintas,
bersyukurnya mobil tadi melaju ketengah sehingga teman saya masih bisa selamat.
Jujur saya memang masih seperti anak kecil yang masih labil, belum
berpendirian, masih suka bergantung kepada orang lain, kadang menyelesaikan
masalah dengan menangis karena takut memikul masalah sendiri. Maafkan aku teman
yang masih suka merepotkan kalian, membuat kalian kecewa, sedih , terganggu,
dan pastinya jengkel dengan sifatku.
Sesampainya
di museum kami sekelas menunggu museum dibuka yaitu pukul delapan pagi.
Disela-sela waktu menunggu saya menyempatkan untuk melanjutkan untuk menyalin
laporan sementara saya tadi. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menjajakan
dagangannya kepada saya dan teman-teman saya. Dalam benak saya merasa kasihan
dengan ibunya, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya harga kue yang
dijualnya, karena dirasa harga kuenya terlalu menguras kantong saya juga teman
saya, akhirnya dari kami tidak ada yang membelinya. Kemudian salah satu teman
saya berniatan untuk membeli kue Ibu tadi atas dasar takut menyakiti perasaan
ibunya, karena menurutnya menjajakan makanan, ada kala kita merasa sakit hati
dan kecewa dengan penolakan calon pembeli, sehingga teman saya tidak ingin itu
semua terjadi. Namun sayang niatannya tadi kalah cepat dengan langkah kaki
Ibunya, sehingga teman saya tidak jadi membelinya, alhasil kami masih menunggu
museum buka didampingi dengan celoteh-celoteh yang tidak jelas arahnya entah
berbincang tentang cowo, dosen, teman, sampai-sampai kebosanan melanda kita,
namun ada saja hal yang dapat membangun suasana kembali seru, yaitu selfie
bareng.
Setelah
beberapa saat dirasa semuanya sudah kumpul, naufal ketua kelas kita mengajak
untuk langsung masuk saja ke museum tidak perlu menunggu jam delapan, karena
sebenarnya dari awal kita sampai di museum tadi sudah buka, tetapi karena Ibu
Evi tidak bisa hadir karena mengikuti upacara bendera yang dimana saya ijin
untuk tidak menghadirinya tetapi Ibu Evi ijin untuk datang terlambat di kelas
kami untuk mengikuti memperingati hari sumpah pemuda, terpaksa kita masuk
museum dan memulai jelajah museum tanpa Ibu Evi.
Sebelum
memulai jelajah terlebih dahulu kami ditanya oleh penjaga museum mau
lihat-lihat dulu apa mau nonton film dulu. Karena dirasa dari kami belum
lengkap, sehingga kami memilih untuk lihat-lihat dulu dan dilanjut nonton
filmnya. Setelah itu kami diarahkan untuk masuk edalam ruangan museum dengan
satu pemandu, yang akan memandu kami selama menjelajah museum nanti. Kami
dikumpulkan persis didepan pintu masuk sebelah dalam museum yang tepatnya
didepan kami berkumpul terdapat gambar logo dan gambaran sejarah asal terbentuknya
museum pendidikan Indonesia ini, dari yang ada di UNY sampai yang udah tersebar
di beberapa daerah di Indonesia.
Adapun Jelajah museumnya dimulai dengan
penjelasan tentang sejarah terbentuknya Museum Pendidikan Indonesia terkhusus
yang ada di UNY. Yogyakarta menjadi
salah satu kota yang memiliki banyak museum. Tidak mengheranan rupanya karena
Yogyakarta memang merupakan kota yang memiliki sejarah dan budaya yang kental.
Museum yang ada juga tidak lepas dari kisah pendatang ke Yogyakarta atau bekas
kisah Belanda. Dari semua museum yang ada, ada salah satunya bernama Museum Pendidikan Indonesia.
Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Yogyakarta merupakan salah
satu museum pendidikan yang ada di Indonesia. Museum pendidikan ini merupakan
museum pendidikan pertama di Indonesia. Dan museum pendidikan berikutnya
disusul oleh Museum Pendidikan Malang yang ada di Malang, Museum Pendidikan
Nasional yang berada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Museum
ini berada di kawasan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berada di
barat laut gedung Rektorat UNY, yang beralamat di Jl. Colombo.No 1,
Karangmalang, Depok, Sleman, Yogyakarta. Awalnya UNY merupakan satukesatuan
dari beberapa universitas negeri dibeberpapa daerah yang tergabung dalam
perguruan tinggi bernama IKIP. Awalnya UNY merupakan bagian dari IKIP, Kemudian
pada tahun 1964 ada surat keppres yang memerintahkan untuk mengabungan fakultas
pedagogik dan ilmu keolahragaan hanya menjadi satu sebagai ilmu keguruan dan
pendidikan, IKIP juga terdapat diluar jogja juga, diantaranya surabaya,
jakarta, bandung, semarang, karena IKIP cakupannya lebih sedikit daripada
fakultas maka daerah-daerah tadi yang tergabung dalam IKIP akhirnya diubah
menjadi Universitas Negeri. Adapun
ketika masih menjadi bagian dari IKIP tempat yang sekarang dibangun museum
adalah tempat rektorat IKIP pertama, yang sekarang beralih fungsi setelah
menjadi Universitas Negeri. Museum Pendidikan Indonesia ini diresmikan oleh
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X pada tanggal 08 Juli 2008.
Pengagas berdirinya MPI UNY adalah Rektor UNY pada saat
itu, Prof.Dr.Sugeng Mahadiono Phd. MPI didirikan karena pada saat itu
belum ada museum pendidikan, serta sebagai dedikasi bagi Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY). Melalui museum ini disampaikan bahwa kejayaan bangsa ini
merupakan hasil dari harmonisasi antara tujuan perjuangan dan semangat untuk
menuntut ilmu.
Museum
Pendidikan Indonesia ini mempunyai visi untuk menjadikan memori kolektif
sebagai wahana menciptakan insan yang memiliki kecerdasan intelektual,
emosional, dan spiritual. Sedangkan tujuan dibangunnya museum ini adalah untuk
memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat dan civitas akademika tentang
eksistensi dan peran museum pendidikan. Museum ini juga sebagai penghargaan
bagi para perintis, tokoh, dan pejuang pendidikan nasional.
MPI sendiri terbagi atas
lima ruangan inti, memasuki ruangan pertama terdapat beberapa koleksi Museum
Pendidikan UNY yang didapatkan dari hibah, pembelian, dan penitipan. Pada saat
itu karena MPI UNY merupakan museum pendidikan pertama di Indonesia sehingga
banyak menarik banyak orang yang menghibahkan berbagai koleksi yang berhubungan
dengan pendidikan, serta pembelian dari beberapa koleksi milik orang lain yang
memiliki sejarah tersendiri dalam bidang pendidikan. Selain itu MPI UNY juga
mendapatkan koleksi dari museum Dewantara Kirti Griya dan arsip kurikulum dari
kementrian. Disana juga dipajang berbagai hasil karya sekaligus prestasi
mahasiswa UNY, diantaranya mobil garuda dari UKM tingkat Universitas khususnya
bidang Restek (Rekayasa Teknologi) yang tersusun atas 2 motorik pengerak penggerak
listrik bagian depan , dan pengerak motor pada bagian belakang mobil, dan dapat
menjuarai kontes di korea. Serta Robot boneka cantik UNY bernamana Rosemerry yang
termasuk di bidang robotic, serta mampu menjuarai kontes bagian seni (kontes
robot indonesia) 2017, dengan meraih penghargaan juara 1.
Galeri pertama merupakan galeri khusus untuk sejarah pendidikan.
Di galeri ini adalah foto-foto menteri pendidikan dari awal yakni Ki Hadjar
Dewantara hingga yang terakhir yakni Mohammad Nuh. Untuk menteri yang terbaru
belum tertempel di galeri ini. Serta pada ruanagn sebelah utara terdapat
pajangan foto-foto rector UNY dari yang pertama sampai yang dua tahun terakhir
sebelumnya, sehingga belum terpasang untuk foto rector yang sekarang dan rektor
sebelumnya. Pada ruangan ini terdapat pula pajangan baju almamater UNY dan
almamater sebelum resmi menjadi Universitas Negeri, yang ditunjukan dengan
warna almamater yang menyerupai alammater UGM saat ini, hal ini dikarenakan
pada saat menjadi bagian dari IKIP, UNY tergabung dengan UGM dan setelah adanya
keppres yang mengharuskan pemisahan ilmu pendidikan dengan yang non pendidikan,
sehingga mengharuskan UNY untuk membentuk dan memisahkan diri dari UGM dan
membuat identitas sendiri seperti alammater yang sekarang tak lagi sama dengan
yang dulu. Sekarang almamater berwarna biru dengan logo UNY di bagian kiri atas
dada, yang ini juga dipajang di museum, sebagai bentuk sejarah pendidikan yang
pernah dialami UNY. Adapula foto aktivitas kelas dari zaman proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia, media pembelajaran, daun rontal baik itu
mentah, setengah jadi maupun yang sudah ditulisi bolpoin, spidol, pensil,
bahkan tinta. Kemudian ada juga alat hitung dan masih banyak yang lainnya.
Mungkin dapat dikatakan sebuah perkembangan dalam dunia pendidikan. Oleh karena
itu zaman dahulu tidak menggunakan bolpoin dan kertas namun daun rontal.
Memasuki ruang galeri ke-2, kami disuguhi berbagai barang
koleksi peralatan tulis menulis pada masa itu dari periode ke periode, namun
sebelum kami dijelaskan mengenai semua yang ada di dalam ruangan itu terlebih
dahulu kami diberikan arahan dan peratuan yang menjadi kesepakatan setiap
pengunjung utuk wajib mentaatinya, diantaranya dilarang membuang sampah
sembarangan, dilarang mencoret-coret hal apaun yang ada disana, dilarang
memegang batu koleksi museum, karena sifat batu yang juga bisa mengalami korosi
seperti layaknya besi, pemandu kemudian memaparkan tentang perbandingan batu
candi yang dijaga baik-baik tanpa ada yang menyentuhnya akan terlihat lebih jelas
pori-pori batu, namun lain hal dengan batu yang dibiarkan dipegang oleh tangan
siapapun seperti berbagai candi di beberpa tempat wisata yang banyak orang
menyentuhnya, maka tekstur candi akan cenderung lebih halus dan sedikit
terlihat pori-porinya. Sedangkan jiklau ingin mengambil foto atau gambar koleks
dipersilahkan.
Dalam
dunia pendidikan terdapat adanya Periodesasi Sejarah Pendidikan terkhusus di
Indonesia diantaranya :
a.
Zaman Purba (Pendidikan Pra-Aksara)
Pada
masa pendidikan ini belum mengenal adanya tulisan, adapun kebudayaan yang
berkembang pada penduduk asli disebut Paleolitis (kebudayaan lama/tua),
sedangkan kebudayaan moyang bangsa Indonesia disebut neolitis (kebudayaan baru)
yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tata masyarakatnya bersifat
egaliter, tidak ada stratifikasi yang jelas. Masyarakatnya dipimpin oleh pemuka
adat.
Tujuan
pendidikan saat itu adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela
diri dan hidup bermasyarakat. Belum ada pendidikan formal, maka kurikulum
pendidikannya meliputi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan mengenai agama.
b.
Zaman Kerajaan Hindu-Budha
Stratifikasi
sudah nampak jelas, antara yang dijamin(raja dan pegawai-pegawainya) dan yang
menjamin (rakyat). Berkembanglah feodalisme di dalam masyarakat dengan
diketemukan tulisan tertua (tulisan huruf Palawa bahasa sansekerta) oleh para
ilmuwan sejarah di dekat Bogor dan Kutai.
Pada
jaman kerajaan Tarumanegara, Kutai telah berkembang pendidikan informal
berbentuk Perguruan dan Pesantren. Sebagai pendidik ( guru dan pendhita) adalah
kaum Brahmana yang kemudian guru menggantikan kedudukannya para Brahmana.
Implikasi dari feodalisme pendidikan bersifat aristokratis artinya masih
terbatas hanya untuk minoritas yaitu anak-anak kasta Brahmana dan Ksatria,
belum menjangkau mayoritas dari anak-anak kasta Waisya dan Syudra.
Tujuan
pendidikan umumnya agar menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup
bermasyarakat, mampu membela diri, dan membela negara. Darmapala sangat
terkenal sebagai guru Budha yang dimungkinkan candi Borobudur, candi mendut
merupakan pusat-pusat pendidikan agama Budha yang menghasilkan karya sastra
yang bermutu tinggi oleh para empu (pujangga) seperti : Kitab Pararaton (Empu
Kanwa), Negara Kertagama ( Empu Sedah dan Empu Panuluh), Arjuna Wiwaha dan
Barathayuda ( Empu Prapanca)
c.
Zaman Kerajaan Islam
Pada
abad 14 melalui saudagar yang beragama Islam masuk dan menyebarkan agama Islam
di pulau Jawa dengan jasa wali songo, akhirnya berdirilah kerajaan Islam. Pada
umumnya tujuan pendidikan untuk menghasilakan manusia yang bertakwa kepada
Allah SWT. Pendidikan berlangsung dalam keluarga dan lambaga-lembaga pendidikan
seperti langgar-langgar, masjid, dan pesantren.
d.
Zaman Pengaruh Portugis dan Spanyol
Bangsa
Portugis dan bangsa Spanyol datang untuk berdagang dan sebagai missionaris
(penyebar agama katholik). Mereka mendirikan sekolah yang kurikulumnya berisi
pendidikan agama katholik ditambah mata pelajaran membaca, menulis dan
berhitung.
e.
Zaman kolonial Belanda
Pada
jaman kolonial Balanda karakteristik kondisi sosial budaya yaitu:
1) Berlangsung
penjajahan kolonialisme
2) Monopoli
hasil pertanian
3) Stratifikasi
sosial
Namun
dengan semakin sadarnya bangsa Indonesia akan makna nasional dan kemerdekaan
lahirlah berbagai pergerakan dalam jalur politik dan pendidikan. Kondisi
pendidikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendidikan yang dilaksanakan oleh
pemerintah kolonial belanda sesuai kepentingan penjajahan dan pendidikan yang
dilaksanakan oleh kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan demi mencapai
kemerdekaan. Ciri-ciri pendidikan zaman itu adalah minimnya partisipasi bagi
rakyat hanya untuk bangsa belanda dan putera golongan priayi, pendidikan
bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja murah atau pegawai rendahan.
Pendidikan
kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan kemerdekaan, antara lain :
1) Tahun
1908 Budi utomo menjelaskan bahwa tujuan perkumpulan adalah untuk kemajuan
yang selaras buat negeri dan bangsa. Dalam bidang pendidikan mendirikan Sekolah
Sentral di Solo dan Yogyakarta yaitu Kweekschool.
2) Tahun
1912 K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah
3) Tahun
1915 didirikan Trikora Dharmo, dan selanjutnya berdiri berbagai perkumpulan
pemuda hingga terwujudnya sumpah pemuda 1928.
4) Tahun
1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Tamansiswa.
5) Tahun
1926 Muhamad Safei mendirikan INS (Indonesisch Nederland School)
6) Dll.
Dari sini pergerakan
nasional melahirkan kesadaran mengenai pentingnya peranan pendidikan nasional
dalam mempersiapkan kelahiran negara nasional. Ciri pendidikan nasional :
1) Bersifat
nasionalistik dan sangat anti kolonialis
2) Berdiri
sendiri atau percaya kepada kemampuan sendiri
3) Pengakuan
kepada eksistensi perguruan swasta sebagai perwujudan harga diri yang tinggi
dan kebhinekaan masyarakat Indonesia.
f. Zaman Kedudukan Jepang
Bangsa
Indonesia berada pada kekuasaan pendudukan militerisme, implikasinya dalam
bidang pendidikan di Indonesia sebagai berikut :
1) Tujuan
dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya
2) Hilangnya
sistem dualisme dalam pendidikan. Terdapat jenjang sekolah : Sekolah Rakyat,
Sekolah Menengah, Sekolah Menengah Tinggi, dan Perguruan Tinggi.
3) Sistem
pendidikan menjadi lebih merakyat.
g. Pendidikan Sesudah Kemerdekaan
a. Kondisi
Pendidikan Periode 1945 – 1969
1) Zaman
Revolusi Fisik Kemerdekaan
Jenjang pendidikan disempurnakan menjadi SMTP dan
SMTA dan mulai mempersiapkan sistem pendidikan nasional sesuai dengan amanat
UUD 1945. Menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengintruksikan agar
membuang sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan patriotisme. Rancangan UU
yang dihasilkan : UURI no. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan
pengajaran di sekolah.
2) Peletakan
Dasar Pendidikan Nasional
Mulai tanggal 18 Agustus 1945, sejak PPKI menetapkan
UUD 1945 sebagai konstitusi negara yang didalamnya memuat pancasila,
implikasinya bahwa sejak saat itu dasar sistem pendidikan nasional kita adalah
Pancasila dan UUD 1945.
3) Demokrasi
Pendidikan
Sesuai amanat UUD 1945 dan UURI No. 4 tahun 1950
pemerintah mengusahakan terselenggaranya pendidikan yang bersifat demokratis
yaitu kewajiban belajar sekolah bagi anak-anak yang berumur 8 tahun.
4) Lahirnya
LPTK pada Tingkat Universiter
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan mendorong
Prof. Moh. Yamin mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Atas dasar
konferensi antar FKIP negeri seluruh Indonesia maka lembaga pendidikan tenaga
guru ( PGSLP, Kursus BI, BII, dan PTPG) diintegrasikan dalam FKIP pada
Universitas. Kemudian didirkan IKIP yang berdiri sendiri sebagai pindahan dari
PTPG sesuai dengan UU PT No. 22 tahun 1961.
5) Lahirnya
Perguruan Tinggi
Pada tanggal 4 Desember 1961 lahir UU no. 22 tentang
perguruan tinggi dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi.
1) UU
tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sebagai penjabaran Undang-undang nomor 2 tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional disahkan 8 Peraturan Pemerintah (PP) yaitu :
a) PP No. 27/1990 tentang
Pendidikan Prasekolah
b) PP No. 28/1990 tentang
Pendidikan Dasar
c) PP No. 29/1990 tentang
Pendidikan Menengah
d) PP No. 30/1990 tentang
Pendidikan Tinggi (kemudian diganti PP No. 60/1999)
e) PP No. 72/1991 tentang
Pendidika Luar Biasa
f) PP No. 73/1991 tentang
Pendidikan Luar Sekolah
g) PP No. 38/1992 tentang Tenaga
Kependidikan
h) PP No. 39/1992 tentang Peran
serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional.
2) Taman
Kanak-Kanak
3) Pendidikan
Dasar
4) Pendidikan
Menengah
5) Pendidikan
Tinggi
6) Pendidikan
Luar Sekolah
h. Pendidikan sekarang (Era-Milenial)
Pada Era pendidikan ini lebih kepada system pendidikan berbasis
digital yang menjadikan perkembangan teknologi dan komunikasi sebagai media
pendidikan, dimaksudkan agar pendidikan yang ada mampu mengikuti perkembangan
zaman yang ada. Dalam hal ini bukan hanya gaya hidup yang dituntut untuk ikut
serta dalam perkembangan zaman, namun pendidikan juga tidak kalah penting
mengingat pendidikan merupakan dasar dari semua bidang dalam kehidupan,
sehingga pendidikan dalam hal ini mempunyai pengaruh dan dampak penting dalam
segala elemen kehidupan. Contoh media pembelajaran berbasis digital, yaitu E-learning. E-Learning merupakan model pembelajaran yang
difasilitasi dan didukung pemanfaatannya teknologi informasi dan komunikasi.
Istilah E-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah
tranformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke
dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet.
Pada
bagian ruangan ini terdapat gambar patung sang penenu dibuat oleh orang asli
flores yang berukuran tinggi 20 cm, namun, aslinya dimuseum Australia. Patung
ini mewakili bentuk pendidikan yang ada ketika Era pra aksara, diajarkan secara
turun temurun cara bercocok tanam, yang menlambangkan bahwa pendidikan di mulai
dari lingkungan keluarga pendididkan didapat dr lingkungan terkecil yaitu keluarga,
patung sang penenun selain memaknai sebagai seorang ibu juga seorang penenun
hasil pra sejarah di perkirakan oleh seorang laki-laki
Jaman
klasik mengenal media sekolah padepokan muridnya namanya cangkrik, adapun ilmu
yang diajarkan yaitu berkaitan dengan ilmu panuragan atau bela diri, agama.
Setelah Islam masuk sebutan padepokan menjadi pesantren adapun siswanya namanya
santri. Adapun Pembelajarannya sudah kenal tulis menulis, menggunakan daun
lontar atau palem yang diman proses pembuatannya berbulan-bulan dengan alat
tulisnya menggunakan pisau yang nantinya akan berbekas celah-celah dan akan
hitam dengan minyak kemiri, kebanyakan berkembang pada kebudayaan masyarakat
bali, yang berkembang samapai kerajaan islam.
Selanjutnya menuju ke lantai dua pengunjung tidak begitu banyak
melihat koleksi. Di lantai dua ini yang ada adalah ruangan Cinema yang memiliki
116 tempat duduk serta sebuah ruangan yang masih dalam proses penyediaan
fasilitas. Kami disuguhi pemutaran film tentang pendidikan pada masa lampau,
yang masih sangat menghargai gurunya, yang masih berkarakter murni selakyaknya
sebagai seorang murid yang senantiasa patuh dan hormat kepada gurunya. Dalam
film ini juga menampilkan betapa sederhananya fasilitas dan peralatan sekolah
yang mereka gunakan. Mereka menggunakan Tablet kuno atau sabak sebagai
media mencatat materi pelajaran, dan grip sebagai media tulisnya. Adapun sistem
pembelajarannya tulis materi, hafalkan, lanagsung hapus. Terkadang seorang
siswa yang mendapatkan nilai bagus cara memberikan bukti kepada orang tuanya
yaitu dengan menempelkannya di pipi mereka.
Lampiran
Foto-foto di MPI UNY
Foto-Foto Rektor yang
menjabat di UNY