Thursday, 19 March 2020

LAPORAN OBSERVASI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA (TUGAS ILMU PENDIDKAN)


TUGAS ILMU PENDIDKAN
LAPORAN OBSERVASI MUSEUM PENDIDIKAN INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Laporan ini disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ilmu Pendidikan
(MDK 6201)
Logo_uny.gif
Dosen Pembimbing
Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd., M.Pd.
Disusun Oleh :
Zulfa Lutfi Anisa
19302241013

Kelas
Pendidikan Fisika A

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
Museum Pendidikan Indonesia (Yogyakarta)
          Senin 28 Oktober 2019 saya dan teman sekelas mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di kampus kita tepatnya di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Kunjungan ini dilakukan guna memenuhi tugas dari Ibu Evi Rovikoh Indah Saputri S.Pd.,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan di kelas saya. Beliau telah membuat kesepakatan dengan kami kelas Pendidikan Fisika A tentang tugas untuk dimasukkan sebagai nilai UTS, kemarin beliau memberikan beberapa pilihan untuk tempat yang kita kunjungi. Sehingga dilakukan voting atau pengambilan suara terbanyak untuk mentukan tepat yang akan kami kunjungi. Ibu Evi memberikan pilihan antara kunjungan ke museum Pendidikan di UNY atau museum Taman Siswa yang letaknya diluar area UNY. Karena mengingat setelah mata kuliah Ilmu Pendidikan ada matakuliah lain sehingga tidak memungkinkan untuk keluar area kampus yang jaraknya lumayan memakan waktu sedangkan jeda pergantian matakuliah berikutnya hanya sepuluh menit, sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Pendidikan yang ada di UNY.
            Setelah semuanya setuju giliran Ibu Evi menentukan penugasan yang harus dikumpulkan, yaitu kami diwajibkan setiap anak harus mengumpulkan paper yang isinya berkaitan dengan peristiwa atau segala sesuatu yang kami alami atau yang ada saat mengunjungi museum. Dengan semangatnya kami sekelas menyetujuinya.
            Saya memulai hari saya dengan bangun tidur, senin kali ini berbeda dari senin-senin yang sudah saya jalani selama laporan praktikum fisika dasar menghampiri hidup saya, ini karena laporan praktikum yang biasanya saya kerjakan semalaman, namun kali ini laporan saya sudah selesai meskipun dibalik keberuntungan saya ini ada kejadian yang sangat menguras kesabaran saya, namun karena pada awal saya masuk UNY mempunyai visi yang mengharuskan saya untuk lebih bisa berorientasi kedepan, dimana pada jurusan yang saya ambil ini mengharuskan saya untuk mempunyai dan dapat mengembangkan kesabaran saya selaku calon pendidik. Kejadian yang pada awalnya membuat saya terbang melayang seketika dijatuhkan begitu saja, sakit emang tetapi ini semua juga sudah ada yang mengatur, jai ceritanya saya diajak kakak saya untuk nonton tetapi karena masih ada tanggungan kerja yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga kakak saya membatalkannya secara sepihak. Seketika saya sedih, murung, menyesal sudah mengorbankan waktu rebahan saya. Namun sungguh luar biasa takdir Allah itu, dibalik semuanya saya menjadi bisa menyelesaikan laporan praktikum saya tanpa terburu-buru dan kalaupun ingin saya koreksi masih punya banyak waktu, dan saya sangat bersyukur kareana nilai laporan praktikum saya yang pada percobaan kali ini tertinggi dari nilai-nilai laporan praktikum saya sebelumnya. Lewat kejadian ini saya jadi tahu bahwa tidak semua kekecewaan membawa keburukan, jika kita pandai dalam memaknai sebuah peristiwa pasti akan ada hal yang akan membuat kita bersyukur akan semuanya.
            Berhubung laporan praktikum saya sudah selesai, senin ini saya berangkat kekampus lebih awal dari biasanya, sehingga jalanan masih terbilang belum ramai apalagi macet, karena sabtu, minggu saya tidak ada kelas karena hari libur saya pulang ke Bantul dan tidak tidur di kosan saya, sehingga sepagi apaun saya berangkat dari rumah tetap saja sesampainya di kampus tetap mepet dengan jam kelas. Namun satu hal yang menolak saya untuk lupa yaitu ketika diparkiran saya bertemu dengan sesorang yang sudah banyak menginspirasi saya, meskipun dia belum mengenal saya tetapi yang terpenting saya masih diberikan kesempatan untuk selalu melihat dan mendengar segala nasihat juga motivasi yang dia sampaikan,yang itu sangat membaut saya lebih mengerti tentang hidup.
Satu setengah jam saya mengarungi lautan kendaraan, yang ini sangat menguji kesabaran saya, karena berbagai macam tujuan yang berbeda, gaya mengendarai motor yang beda, pemahaman tentang berkendara yang berbeda, pokokny serba beda semua jadi satu dalam arus dan lintasan yang sama, namun kali ini tidak separah dengan hari-hari saya yang sudah lalu, karena beruntungnya saya berangkat lebih pagi dari hari-hari kemarin. Sesampainya diparkiran saya melihat beberapa mahasiswa memakai almamater yang dimana saya mengetahui sebab mereka memakai almamater, yang tak lain dan tak bukan yaitu untuk mengikuti upacara bendera memperingati hari sumpah pemuda. Adapun seluruh calon maupun yang sudah resmi sebagai mahasiswa penerima bidikmisi diwajibkan untuk menghadirinya. Sehingga saya sangat merasa kurang nyaman dengan saya saat itu karena terpaksa saya harus ijin guna mengikuti UTS yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan upacara bendera.
Disamping itu saya juga sudah harus menyalin hasil praktikum Analisis Rangkaian Listrik di buku kelompok, yang nantinya setelah matakuliah Ilmu Pendidikan usai kita lanjut praktikum bab selanjutnya. Setelah saya mengumpulkan laporan praktikum saya di depan pintu laboratorium fisika dasar, saya lanjut menyelesaikan kegiatan menyalin saya tadi, sambil menunggu teman-teman saya yang masih menyelesaikan laporan praktikum mereka, untung-untung cari teman ketika ke musiumnya nanti. Karena bolpoint saya tintanya habis terpaksa saya meminjam bolpoint kepada teman saya, dan ternyata bolpoint kita senasib bedanya punya temen saya masih ada sisa-sisanya jadi masih mendingan daripada punya saya. Setelah itu saya dan teman saya menuju museum bersama-sama, sepanjang perjalanan saya bersama teman saya berbincang masalah penugasan ini yang dimana kami membicarakan bagaimana caranya agar cerita kita nanti bisa panjang dan banyak, sehingga saya mencoba membuat adegan yang membuat teman saya terkejut, saya yang awalnya hanya berniat bercanda namun jadi bahan seriusan bagi teman-teman saya. Saya sengaja mendorong teman saya kejalan ketika kita bersamaan jalan di trotoar, namun dari arah belakang ternyata ada mobil yang melintas, bersyukurnya mobil tadi melaju ketengah sehingga teman saya masih bisa selamat. Jujur saya memang masih seperti anak kecil yang masih labil, belum berpendirian, masih suka bergantung kepada orang lain, kadang menyelesaikan masalah dengan menangis karena takut memikul masalah sendiri. Maafkan aku teman yang masih suka merepotkan kalian, membuat kalian kecewa, sedih , terganggu, dan pastinya jengkel dengan sifatku.
Sesampainya di museum kami sekelas menunggu museum dibuka yaitu pukul delapan pagi. Disela-sela waktu menunggu saya menyempatkan untuk melanjutkan untuk menyalin laporan sementara saya tadi. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menjajakan dagangannya kepada saya dan teman-teman saya. Dalam benak saya merasa kasihan dengan ibunya, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya harga kue yang dijualnya, karena dirasa harga kuenya terlalu menguras kantong saya juga teman saya, akhirnya dari kami tidak ada yang membelinya. Kemudian salah satu teman saya berniatan untuk membeli kue Ibu tadi atas dasar takut menyakiti perasaan ibunya, karena menurutnya menjajakan makanan, ada kala kita merasa sakit hati dan kecewa dengan penolakan calon pembeli, sehingga teman saya tidak ingin itu semua terjadi. Namun sayang niatannya tadi kalah cepat dengan langkah kaki Ibunya, sehingga teman saya tidak jadi membelinya, alhasil kami masih menunggu museum buka didampingi dengan celoteh-celoteh yang tidak jelas arahnya entah berbincang tentang cowo, dosen, teman, sampai-sampai kebosanan melanda kita, namun ada saja hal yang dapat membangun suasana kembali seru, yaitu selfie bareng.
Setelah beberapa saat dirasa semuanya sudah kumpul, naufal ketua kelas kita mengajak untuk langsung masuk saja ke museum tidak perlu menunggu jam delapan, karena sebenarnya dari awal kita sampai di museum tadi sudah buka, tetapi karena Ibu Evi tidak bisa hadir karena mengikuti upacara bendera yang dimana saya ijin untuk tidak menghadirinya tetapi Ibu Evi ijin untuk datang terlambat di kelas kami untuk mengikuti memperingati hari sumpah pemuda, terpaksa kita masuk museum dan memulai jelajah museum tanpa Ibu Evi.
Sebelum memulai jelajah terlebih dahulu kami ditanya oleh penjaga museum mau lihat-lihat dulu apa mau nonton film dulu. Karena dirasa dari kami belum lengkap, sehingga kami memilih untuk lihat-lihat dulu dan dilanjut nonton filmnya. Setelah itu kami diarahkan untuk masuk edalam ruangan museum dengan satu pemandu, yang akan memandu kami selama menjelajah museum nanti. Kami dikumpulkan persis didepan pintu masuk sebelah dalam museum yang tepatnya didepan kami berkumpul terdapat gambar logo dan gambaran sejarah asal terbentuknya museum pendidikan Indonesia ini, dari yang ada di UNY sampai yang udah tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
Adapun Jelajah museumnya dimulai dengan penjelasan tentang sejarah terbentuknya Museum Pendidikan Indonesia terkhusus yang ada di UNY. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang memiliki banyak museum. Tidak mengheranan rupanya karena Yogyakarta memang merupakan kota yang memiliki sejarah dan budaya yang kental. Museum yang ada juga tidak lepas dari kisah pendatang ke Yogyakarta atau bekas kisah Belanda. Dari semua museum yang ada, ada salah satunya bernama Museum Pendidikan Indonesia.
Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Yogyakarta merupakan salah satu museum pendidikan yang ada di Indonesia. Museum pendidikan ini merupakan museum pendidikan pertama di Indonesia. Dan museum pendidikan berikutnya disusul oleh Museum Pendidikan Malang yang ada di Malang, Museum Pendidikan Nasional yang berada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Museum ini berada di kawasan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berada di barat laut gedung Rektorat UNY, yang beralamat di Jl. Colombo.No 1, Karangmalang, Depok, Sleman, Yogyakarta. Awalnya UNY merupakan satukesatuan dari beberapa universitas negeri dibeberpapa daerah yang tergabung dalam perguruan tinggi bernama IKIP. Awalnya UNY merupakan bagian dari IKIP, Kemudian pada tahun 1964 ada surat keppres yang memerintahkan untuk mengabungan fakultas pedagogik dan ilmu keolahragaan hanya menjadi satu sebagai ilmu keguruan dan pendidikan, IKIP juga terdapat diluar jogja juga, diantaranya surabaya, jakarta, bandung, semarang, karena IKIP cakupannya lebih sedikit daripada fakultas maka daerah-daerah tadi yang tergabung dalam IKIP akhirnya diubah menjadi Universitas Negeri. Adapun ketika masih menjadi bagian dari IKIP tempat yang sekarang dibangun museum adalah tempat rektorat IKIP pertama, yang sekarang beralih fungsi setelah menjadi Universitas Negeri. Museum Pendidikan Indonesia ini diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X pada tanggal 08 Juli 2008.
Pengagas berdirinya MPI UNY adalah Rektor UNY pada saat itu, Prof.Dr.Sugeng Mahadiono Phd. MPI didirikan karena pada saat itu belum ada museum pendidikan, serta sebagai dedikasi bagi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melalui museum ini disampaikan bahwa kejayaan bangsa ini merupakan hasil dari harmonisasi antara tujuan perjuangan dan semangat untuk menuntut ilmu.
Museum Pendidikan Indonesia ini mempunyai visi untuk menjadikan memori kolektif sebagai wahana menciptakan insan yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sedangkan tujuan dibangunnya museum ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat dan civitas akademika tentang eksistensi dan peran museum pendidikan. Museum ini juga sebagai penghargaan bagi para perintis, tokoh, dan pejuang pendidikan nasional.
 MPI sendiri terbagi atas lima ruangan inti, memasuki ruangan pertama terdapat beberapa koleksi Museum Pendidikan UNY yang didapatkan dari hibah, pembelian, dan penitipan. Pada saat itu karena MPI UNY merupakan museum pendidikan pertama di Indonesia sehingga banyak menarik banyak orang yang menghibahkan berbagai koleksi yang berhubungan dengan pendidikan, serta pembelian dari beberapa koleksi milik orang lain yang memiliki sejarah tersendiri dalam bidang pendidikan. Selain itu MPI UNY juga mendapatkan koleksi dari museum Dewantara Kirti Griya dan arsip kurikulum dari kementrian. Disana juga dipajang berbagai hasil karya sekaligus prestasi mahasiswa UNY, diantaranya mobil garuda dari UKM tingkat Universitas khususnya bidang Restek (Rekayasa Teknologi) yang tersusun atas 2 motorik pengerak penggerak listrik bagian depan , dan pengerak motor pada bagian belakang mobil, dan dapat menjuarai kontes di korea. Serta Robot boneka cantik UNY bernamana Rosemerry yang termasuk di bidang robotic, serta mampu menjuarai kontes bagian seni (kontes robot  indonesia)  2017, dengan meraih penghargaan juara 1.
Galeri pertama merupakan galeri khusus untuk sejarah pendidikan. Di galeri ini adalah foto-foto menteri pendidikan dari awal yakni Ki Hadjar Dewantara hingga yang terakhir yakni Mohammad Nuh. Untuk menteri yang terbaru belum tertempel di galeri ini. Serta pada ruanagn sebelah utara terdapat pajangan foto-foto rector UNY dari yang pertama sampai yang dua tahun terakhir sebelumnya, sehingga belum terpasang untuk foto rector yang sekarang dan rektor sebelumnya. Pada ruangan ini terdapat pula pajangan baju almamater UNY dan almamater sebelum resmi menjadi Universitas Negeri, yang ditunjukan dengan warna almamater yang menyerupai alammater UGM saat ini, hal ini dikarenakan pada saat menjadi bagian dari IKIP, UNY tergabung dengan UGM dan setelah adanya keppres yang mengharuskan pemisahan ilmu pendidikan dengan yang non pendidikan, sehingga mengharuskan UNY untuk membentuk dan memisahkan diri dari UGM dan membuat identitas sendiri seperti alammater yang sekarang tak lagi sama dengan yang dulu. Sekarang almamater berwarna biru dengan logo UNY di bagian kiri atas dada, yang ini juga dipajang di museum, sebagai bentuk sejarah pendidikan yang pernah dialami UNY. Adapula foto aktivitas kelas dari zaman proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, media pembelajaran, daun rontal baik itu mentah, setengah jadi maupun yang sudah ditulisi bolpoin, spidol, pensil, bahkan tinta. Kemudian ada juga alat hitung dan masih banyak yang lainnya. Mungkin dapat dikatakan sebuah perkembangan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu zaman dahulu tidak menggunakan bolpoin dan kertas namun daun rontal.
Memasuki ruang galeri ke-2, kami disuguhi berbagai barang koleksi peralatan tulis menulis pada masa itu dari periode ke periode, namun sebelum kami dijelaskan mengenai semua yang ada di dalam ruangan itu terlebih dahulu kami diberikan arahan dan peratuan yang menjadi kesepakatan setiap pengunjung utuk wajib mentaatinya, diantaranya dilarang membuang sampah sembarangan, dilarang mencoret-coret hal apaun yang ada disana, dilarang memegang batu koleksi museum, karena sifat batu yang juga bisa mengalami korosi seperti layaknya besi, pemandu kemudian memaparkan tentang perbandingan batu candi yang dijaga baik-baik tanpa ada yang menyentuhnya akan terlihat lebih jelas pori-pori batu, namun lain hal dengan batu yang dibiarkan dipegang oleh tangan siapapun seperti berbagai candi di beberpa tempat wisata yang banyak orang menyentuhnya, maka tekstur candi akan cenderung lebih halus dan sedikit terlihat pori-porinya. Sedangkan jiklau ingin mengambil foto atau gambar koleks dipersilahkan.
Dalam dunia pendidikan terdapat adanya Periodesasi Sejarah Pendidikan terkhusus di Indonesia diantaranya :
a.       Zaman Purba (Pendidikan Pra-Aksara)
Pada masa pendidikan ini belum mengenal adanya tulisan, adapun kebudayaan yang berkembang pada penduduk asli disebut Paleolitis (kebudayaan lama/tua), sedangkan kebudayaan moyang bangsa Indonesia disebut neolitis (kebudayaan baru) yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Tata masyarakatnya bersifat egaliter, tidak ada stratifikasi yang jelas. Masyarakatnya dipimpin oleh pemuka adat.
Tujuan pendidikan saat itu adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri dan hidup bermasyarakat. Belum ada pendidikan formal, maka kurikulum pendidikannya meliputi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan mengenai agama.

b.       Zaman Kerajaan Hindu-Budha
Stratifikasi sudah nampak jelas, antara yang dijamin(raja dan pegawai-pegawainya) dan yang menjamin (rakyat).  Berkembanglah feodalisme di dalam masyarakat dengan diketemukan tulisan tertua (tulisan huruf Palawa bahasa sansekerta) oleh para ilmuwan sejarah di dekat Bogor dan Kutai.
Pada jaman kerajaan Tarumanegara, Kutai telah berkembang pendidikan informal berbentuk Perguruan dan Pesantren. Sebagai pendidik ( guru dan pendhita) adalah kaum Brahmana yang kemudian guru menggantikan kedudukannya para Brahmana. Implikasi dari feodalisme pendidikan bersifat aristokratis artinya masih terbatas hanya untuk minoritas yaitu anak-anak kasta Brahmana dan Ksatria, belum menjangkau mayoritas dari anak-anak kasta Waisya dan Syudra.
Tujuan pendidikan umumnya agar menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup bermasyarakat, mampu membela diri, dan membela negara. Darmapala sangat terkenal sebagai guru Budha yang dimungkinkan candi Borobudur, candi mendut merupakan pusat-pusat pendidikan agama Budha yang menghasilkan karya sastra yang bermutu tinggi oleh para empu (pujangga) seperti : Kitab Pararaton (Empu Kanwa), Negara Kertagama ( Empu Sedah dan Empu Panuluh), Arjuna Wiwaha dan Barathayuda ( Empu Prapanca)


c.       Zaman Kerajaan Islam
Pada abad 14 melalui saudagar yang beragama Islam masuk dan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dengan jasa wali songo, akhirnya berdirilah kerajaan Islam. Pada umumnya tujuan pendidikan untuk menghasilakan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Pendidikan berlangsung dalam keluarga dan lambaga-lembaga pendidikan seperti langgar-langgar, masjid, dan pesantren.

d.      Zaman Pengaruh Portugis dan Spanyol
Bangsa Portugis dan bangsa Spanyol datang untuk berdagang dan sebagai missionaris (penyebar agama katholik). Mereka mendirikan sekolah yang kurikulumnya berisi pendidikan agama katholik ditambah mata pelajaran membaca, menulis dan berhitung.

e.        Zaman kolonial Belanda
Pada jaman kolonial Balanda karakteristik kondisi sosial budaya yaitu:
1)   Berlangsung penjajahan kolonialisme
2)   Monopoli hasil pertanian
3)   Stratifikasi sosial

Namun dengan semakin sadarnya bangsa Indonesia akan makna nasional dan kemerdekaan lahirlah berbagai pergerakan dalam jalur politik dan pendidikan. Kondisi pendidikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial belanda sesuai kepentingan penjajahan dan pendidikan yang dilaksanakan oleh kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan demi mencapai kemerdekaan. Ciri-ciri pendidikan zaman itu adalah minimnya partisipasi bagi rakyat hanya untuk bangsa belanda dan putera golongan priayi, pendidikan bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja murah atau pegawai rendahan.
Pendidikan kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan kemerdekaan, antara lain :
1)        Tahun 1908 Budi utomo menjelaskan bahwa tujuan perkumpulan adalah untuk kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa. Dalam bidang pendidikan mendirikan Sekolah Sentral di Solo dan Yogyakarta yaitu Kweekschool.
2)        Tahun 1912 K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah
3)        Tahun 1915 didirikan Trikora Dharmo, dan selanjutnya berdiri berbagai perkumpulan pemuda hingga terwujudnya sumpah pemuda 1928.
4)        Tahun 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Tamansiswa.
5)        Tahun 1926 Muhamad Safei mendirikan INS (Indonesisch Nederland School)
6)        Dll.
Dari sini pergerakan nasional melahirkan kesadaran mengenai pentingnya peranan pendidikan nasional dalam mempersiapkan kelahiran negara nasional. Ciri pendidikan nasional :
1)        Bersifat nasionalistik dan sangat anti kolonialis
2)        Berdiri sendiri atau percaya kepada kemampuan sendiri
3)        Pengakuan kepada eksistensi perguruan swasta sebagai perwujudan harga diri yang tinggi dan kebhinekaan masyarakat Indonesia.
     f. Zaman Kedudukan Jepang
Bangsa Indonesia berada pada kekuasaan pendudukan militerisme, implikasinya dalam bidang pendidikan di Indonesia sebagai berikut :
1)   Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya
2)   Hilangnya sistem dualisme dalam pendidikan. Terdapat jenjang sekolah : Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah, Sekolah Menengah Tinggi, dan Perguruan Tinggi.
3)   Sistem pendidikan menjadi lebih merakyat.
      g. Pendidikan Sesudah Kemerdekaan
a.        Kondisi Pendidikan Periode 1945 – 1969
1)        Zaman Revolusi Fisik Kemerdekaan
Jenjang pendidikan disempurnakan menjadi SMTP dan SMTA dan mulai mempersiapkan sistem pendidikan nasional sesuai dengan amanat UUD 1945. Menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengintruksikan agar membuang sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan patriotisme. Rancangan UU yang dihasilkan : UURI no. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah.
2)        Peletakan Dasar Pendidikan Nasional
Mulai tanggal 18 Agustus 1945, sejak PPKI menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi negara yang didalamnya memuat pancasila, implikasinya bahwa sejak saat itu dasar sistem pendidikan nasional kita adalah Pancasila dan UUD 1945.
3)        Demokrasi Pendidikan
Sesuai amanat UUD 1945 dan UURI No. 4 tahun 1950 pemerintah mengusahakan terselenggaranya pendidikan yang bersifat demokratis yaitu kewajiban belajar sekolah bagi anak-anak yang berumur 8 tahun.
4)        Lahirnya LPTK pada Tingkat Universiter
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan mendorong Prof. Moh. Yamin mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Atas dasar konferensi antar FKIP negeri seluruh Indonesia maka lembaga pendidikan tenaga guru ( PGSLP, Kursus BI, BII, dan PTPG) diintegrasikan dalam FKIP pada Universitas. Kemudian didirkan IKIP yang berdiri sendiri sebagai pindahan dari PTPG sesuai dengan UU PT No. 22 tahun 1961.
5)        Lahirnya Perguruan Tinggi
Pada tanggal 4 Desember 1961 lahir UU no. 22 tentang perguruan tinggi dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi.
1)        UU tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sebagai penjabaran Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional disahkan 8 Peraturan Pemerintah (PP) yaitu :
a)    PP No. 27/1990 tentang Pendidikan Prasekolah
b)   PP No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar
c)    PP No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah
d)   PP No. 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi (kemudian diganti PP No. 60/1999)
e)    PP No. 72/1991 tentang Pendidika Luar Biasa
f)    PP No. 73/1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah
g)   PP No. 38/1992 tentang Tenaga Kependidikan
h)   PP No. 39/1992 tentang Peran serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional.
2)        Taman Kanak-Kanak
3)        Pendidikan Dasar
4)        Pendidikan Menengah
5)        Pendidikan Tinggi
6)        Pendidikan Luar Sekolah

   h. Pendidikan sekarang (Era-Milenial)
Pada Era pendidikan ini lebih kepada system pendidikan berbasis digital yang menjadikan perkembangan teknologi dan komunikasi sebagai media pendidikan, dimaksudkan agar pendidikan yang ada mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada. Dalam hal ini bukan hanya gaya hidup yang dituntut untuk ikut serta dalam perkembangan zaman, namun pendidikan juga tidak kalah penting mengingat pendidikan merupakan dasar dari semua bidang dalam kehidupan, sehingga pendidikan dalam hal ini mempunyai pengaruh dan dampak penting dalam segala elemen kehidupan. Contoh media pembelajaran berbasis digital, yaitu E-learning. E-Learning merupakan model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung pemanfaatannya teknologi informasi dan komunikasi. Istilah E-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah tranformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet.
Pada bagian ruangan ini terdapat gambar patung sang penenu dibuat oleh orang asli flores yang berukuran tinggi 20 cm, namun, aslinya dimuseum Australia. Patung ini mewakili bentuk pendidikan yang ada ketika Era pra aksara, diajarkan secara turun temurun cara bercocok tanam, yang menlambangkan bahwa pendidikan di mulai dari lingkungan keluarga pendididkan didapat dr lingkungan terkecil yaitu keluarga, patung sang penenun selain memaknai sebagai seorang ibu juga seorang penenun hasil pra sejarah di perkirakan oleh seorang laki-laki
Jaman klasik mengenal media sekolah padepokan muridnya namanya cangkrik, adapun ilmu yang diajarkan yaitu berkaitan dengan ilmu panuragan atau bela diri, agama. Setelah Islam masuk sebutan padepokan menjadi pesantren adapun siswanya namanya santri. Adapun Pembelajarannya sudah kenal tulis menulis, menggunakan daun lontar atau palem yang diman proses pembuatannya berbulan-bulan dengan alat tulisnya menggunakan pisau yang nantinya akan berbekas celah-celah dan akan hitam dengan minyak kemiri, kebanyakan berkembang pada kebudayaan masyarakat bali, yang berkembang samapai kerajaan islam.
Selanjutnya menuju ke lantai dua pengunjung tidak begitu banyak melihat koleksi. Di lantai dua ini yang ada adalah ruangan Cinema yang memiliki 116 tempat duduk serta sebuah ruangan yang masih dalam proses penyediaan fasilitas. Kami disuguhi pemutaran film tentang pendidikan pada masa lampau, yang masih sangat menghargai gurunya, yang masih berkarakter murni selakyaknya sebagai seorang murid yang senantiasa patuh dan hormat kepada gurunya. Dalam film ini juga menampilkan betapa sederhananya fasilitas dan peralatan sekolah yang mereka gunakan. Mereka menggunakan Tablet kuno atau sabak sebagai media mencatat materi pelajaran, dan grip sebagai media tulisnya. Adapun sistem pembelajarannya tulis materi, hafalkan, lanagsung hapus. Terkadang seorang siswa yang mendapatkan nilai bagus cara memberikan bukti kepada orang tuanya yaitu dengan menempelkannya di pipi mereka.


Lampiran
Foto-foto di MPI UNY
Foto-Foto Rektor yang menjabat di UNY


No comments:

Post a Comment